Messi Akui Kekalahan di Final Piala Dunia Tinggalkan Luka Mendalam
Baca dalam 60 detik
- Argentina gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia setelah dikalahkan Spanyol 1-0 di final, menghentikan ambisi menjadi tim pertama sejak Brasil 1962 yang juara berturut-turut.
- Lionel Messi, yang tampil di final ketiga kalinya, menyebut rasa sakit ini akan lama sembuh, namun tetap bangga dengan perjuangan tim dan dukungan rakyat Argentina.
- Kekalahan ini menjadi pukulan bagi sepak bola Argentina, namun Messi menegaskan pencapaian dua final beruntun adalah kebanggaan tersendiri.

Lionel Messi mengakui kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2024 menyisakan rasa sakit yang mendalam. Dalam pernyataan di media sosial, kapten timnas Argentina itu menyebut luka ini butuh waktu lama untuk pulih, meski ia tetap memuji perjuangan rekan-rekannya yang berhasil menembus partai puncak untuk kedua kalinya secara beruntun.
Spanyol memastikan gelar juara setelah menaklukkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Pertandingan yang berlangsung di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, itu sekaligus memupus ambisi Argentina menjadi tim pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan trofi Piala Dunia.
Bagi Messi, kekalahan ini menjadi pukulan berat, terutama setelah ia sukses membawa Argentina juara pada 2022. Namun, pemain berusia 39 tahun itu juga menekankan kebanggaan atas perjalanan timnya. "Rasa sakit ini sangat besar dan akan butuh waktu lama bagi luka ini untuk sembuh," tulis Messi. "Tapi saya juga akan mengingat semua kenangan indah... dukungan seluruh negeri yang, bersama kerja keras dan usaha tim, membawa kami sekali lagi menjadi salah satu yang terbaik di dunia."
Pencapaian Argentina mencapai final kedua berturut-turut merupakan prestasi langka. Hanya sedikit tim yang mampu melakukannya dalam sejarah Piala Dunia. Messi sendiri kini menjadi pemain kedua, setelah bek Brasil Cafu, yang tampil di tiga final Piala Dunia putra (2014, 2022, 2024).
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kekalahan Argentina ini menjadi pengingat betapa ketatnya persaingan di level tertinggi. Meski memiliki pemain sehebat Messi, tak ada jaminan kemenangan. Spanyol, dengan gaya permainan tiki-taka yang khas, membuktikan bahwa strategi kolektif bisa mengalahkan bintang individu. Pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia yang tengah berbenah: konsistensi dan kerja tim adalah kunci.
Messi juga menyampaikan selamat kepada Spanyol dan menegaskan bahwa Argentina bisa bangga dengan pencapaiannya. "Sekali lagi, kami berhasil bersatu sebagai negara dan berdiri bersama," tambahnya. "Berbagi kebanggaan luar biasa menjadi orang Argentina."
Dengan kekalahan ini, Messi mungkin harus menunggu lebih lama lagi untuk menambah koleksi trofi Piala Dunia. Namun, warisannya sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa tak perlu diragukan. Pertanyaan besarnya, mampukah Argentina bangkit di turnamen berikutnya, atau era keemasan mereka telah berakhir?



