Renovasi Stadion Alte Försterei: Union Berlin Targetkan Kapasitas 40.500 pada 2029
Baca dalam 60 detik
- Union Berlin membeberkan jadwal renovasi stadion kandangnya, dengan kapasitas yang bakal melonjak hingga hampir dua kali lipat menjadi 40.500 penonton.
- Selama masa konstruksi sekitar 18 bulan, Die Eisernen akan meminjam Stadion Olimpiade milik rival sekota, Hertha BSC, sebagai markas sementara.
- Presiden klub Dirk Zingler menekankan bahwa ketepatan perencanaan lebih diutamakan daripada kecepatan, dengan perkiraan kembali ke kandang pada musim panas 2029.

Union Berlin akhirnya membeberkan peta jalan konkret untuk merombak total Stadion an der Alten Försterei, markas bersejarah mereka di kawasan Köpenick. Dalam rapat umum tahunan klub pada 3 September lalu, Presiden Dirk Zingler mengungkapkan bahwa kapasitas stadion akan ditingkatkan dari 22.000 menjadi 40.500 penonton, dengan target penyelesaian proyek pada musim panas 2029.
Proyek ambisius ini bukan sekadar menambah kursi. Union Berlin berencana memperbesar jumlah tempat berdiri menjadi 32.500, mempertahankan atmosfer khas stadion yang selama ini menjadi identitas klub. Namun, perjalanan menuju stadion baru itu panjang dan penuh tantangan administratif. Berdasarkan jadwal yang dipaparkan Zingler, survei ahli dan langkah konservasi yang diperlukan baru akan tuntas pada musim gugur 2026. Setelah itu, proses persetujuan perencanaan dijadwalkan pada musim gugur 2027, disusul izin mendirikan bangunan pada musim dingin tahun yang sama.
Runtutan jadwal tersebut mengindikasikan bahwa pembongkaran baru akan dimulai pada peralihan 2027 ke 2028. Durasi konstruksi diperkirakan memakan waktu sekitar 18 bulan. Artinya, selama dua musim kompetisi, Union Berlin harus meninggalkan kandang yang telah menemani perjalanan mereka dari kasta bawah hingga ke Bundesliga. Keputusan untuk meminjam Stadion Olimpiade milik Hertha BSC, rival sekota, menjadi solusi yang diambil manajemen. Langkah ini dinilai sebagai peluang untuk menjangkau lebih banyak penggemar baru, seperti diungkapkan Zingler dalam pernyataannya.
"Kami memandang kepindahan sementara ke Olympiastadion sebagai peluang besar. Suporter Union akan kembali bisa membawa keluarga dan teman-teman mereka. Dan kami bisa memenangkan orang-orang baru untuk Union yang sebelumnya tidak punya kesempatan mengenal kami. Mari manfaatkan kesempatan ini bersama-sama."
Zingler menegaskan bahwa kompleksitas proyek menuntut perencanaan yang presisi di segala aspek, mulai dari desain konstruksi, proses pembangunan, hingga pembiayaan. Ia menggarisbawahi bahwa akurasi harus mengalahkan kecepatan, sebuah sikap yang mencerminkan pengalaman klub dalam proyek pembangunan sebelumnya. Bagi Union Berlin, renovasi ini bukan hanya tentang meningkatkan kapasitas, tetapi juga menjaga keberlanjutan finansial dan daya saing klub di kancah Eropa.
Fenomena renovasi stadion dengan kapasitas besar ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur sepak bola nasional, kisah Union Berlin memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan matang dan manajemen risiko. Klub-klub Indonesia yang tengah berbenah, baik di Liga 1 maupun Liga 2, dapat meniru pendekatan bertahap yang diterapkan Union Berlin, termasuk dalam hal mencari venue alternatif selama masa renovasi. Kolaborasi antar klub, seperti yang dilakukan Union dan Hertha, juga bisa menjadi inspirasi untuk memperkuat ekosistem sepak bola nasional.
Ke depan, publik sepak bola Jerman akan menantikan apakah jadwal yang dipaparkan Zingler dapat direalisasikan tepat waktu. Pertanyaan besarnya, apakah kapasitas 40.500 penonton akan cukup untuk menampung antusiasme suporter Union yang selama ini dikenal militan? Atau justru memicu perdebatan tentang hilangnya karakter intim stadion yang selama ini menjadi daya tarik tersendiri? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: Union Berlin sedang bertaruh besar untuk masa depan yang lebih gemilang.



