Gagal ke Inter Milan karena Aturan Jantung, Khalaili: Saya Sehat dan Siap Bermain
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan batal mendatangkan Anan Khalaili setelah hasil tes jantung tidak memenuhi standar ketat Italia, meski pemain dinyatakan lolos medical internal klub.
- Aturan Komite Olimpiade Italia (CONI) melarang pemain dengan kelainan jantung tertentu bermain di Serie A, seperti yang pernah dialami Christian Eriksen dan Edoardo Bove.
- Khalaili kembali ke Union Saint-Gilloise dan mengklaim telah bermain 99 pertandingan dalam dua tahun terakhir tanpa masalah kesehatan.

Anan Khalaili, penyerang asal Israel, gagal bergabung dengan Inter Milan pada bursa transfer musim panas ini meski kedua klub telah menyepakati nilai transfer mencapai €30 juta. Penyebabnya bukan cedera atau ketidakcocokan taktik, melainkan aturan ketat Italia terkait fungsi jantung yang membuat otoritas olahraga setempat menolak mengeluarkan izin bermain.
Khalaili, yang sebelumnya membela Union Saint-Gilloise di Liga Belgia, awalnya lolos tes medis internal Inter tanpa masalah. Namun, pemeriksaan lanjutan yang dilakukan oleh Komite Olimpiade Italia (CONI) menemukan sejumlah ketidakberesan pada fungsi jantungnya. Berdasarkan regulasi Serie A, pemain dengan kelainan jantung tertentu tidak diizinkan tampil di kompetisi profesional Italia, sehingga transfer batal total.
Pemain berusia 24 tahun itu buka suara melalui kanal resmi klub Belgia tersebut. “Saya merasa baik, sehat, dan sempurna. Saya siap bermain dan berlatih keras, memberikan yang terbaik 100 persen. Dalam dua tahun terakhir, saya memainkan 99 pertandingan dan hampir selalu bermain penuh 90 menit,” ujarnya, menepis anggapan bahwa kondisinya tidak layak.
Italia memang dikenal memiliki protokol kesehatan jantung paling ketat di dunia sepak bola. Regulasi ini diperketat setelah sejumlah insiden kardiovaskular di lapangan, termasuk kasus Christian Eriksen yang kolaps di Euro 2020. Eriksen, yang kemudian dipasangi alat pacu jantung, tidak diizinkan bermain di Serie A dan harus pindah ke Brentford di Inggris. Hal serupa juga dialami Edoardo Bove, yang kini bermain di Liga Inggris.
Khalaili pun menyindir pihak berwenang Italia. “Saya selalu fokus pada karier, saya selalu percaya, dan saya akan memberikan yang terbaik. Saya sehat dan siap,” katanya, seraya mengunggah foto latihan bersama Union Saint-Gilloise. Meski demikian, keputusan CONI bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat oleh Inter Milan.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya standar medis ketat dalam kompetisi. Liga Indonesia belum memiliki regulasi serumit Italia, namun beberapa klub mulai menerapkan tes jantung menyeluruh untuk mencegah insiden fatal. Ke depannya, mungkin diperlukan koordinasi dengan otoritas kesehatan setempat untuk menyelaraskan protokol, terutama jika ada pemain dengan riwayat jantung yang ingin berkarier di Indonesia.
Khalaili kini kembali berlatih penuh bersama Union Saint-Gilloise dan siap membela timnya di kompetisi Belgia. Pertanyaannya, akankah ada klub Eropa lain yang berani mengambil risiko dengan merekrutnya, atau aturan Italia justru menjadi preseden bagi negara lain untuk memperketat regulasi serupa?



