Harga Minyak Menguat 6% di Tengah Konflik AS-Iran, Solar AS Tembus Rekor
Baca dalam 60 detik
- Konflik AS-Iran yang kembali memanas mendorong harga minyak mentah menguat lebih dari 6% dalam sepekan, dengan solar AS mencatat rekor tertinggi.
- Kekhawatiran pasokan dari Selat Hormuz dan serangan Ukraina ke kilang Rusia memperparah gangguan distribusi, meski klaim pemerintah AS menyebut arus minyak mendekati normal.
- Kenaikan harga energi berpotensi memperberat inflasi global dan memicu kenaikan suku bunga, yang berimbas pada negara importir seperti Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali bergerak liar. Dalam sepekan terakhir, Brent tercatat melonjak lebih dari 6 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat hingga 8,3 persen, dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki bulan ketujuh. Di sisi lain, harga solar di AS menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, menambah kekhawatiran akan meluasnya tekanan inflasi global.
Pada perdagangan Jumat (4/9) tengah hari, Brent sempat terkoreksi 0,79 persen ke level 94,77 dolar AS per barel, sedangkan WTI turun 1,04 persen ke 90,35 dolar AS. Namun, koreksi harian itu tidak mengubah tren mingguan yang positif. Para analis menilai bahwa kembalinya serangan militer AS ke Iran—yang menewaskan puluhan warga sipil—merupakan pemicu utama melonjaknya harga komoditas energi.
Kenaikan harga minyak dan bahan bakar yang lebih tajam telah mendorong inflasi dan biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara. Claudio Galimberti, ekonom utama Rystad Energy, menggarisbawahi bahwa diesel memengaruhi seluruh sektor ekonomi. "Inilah salah satu alasan mengapa imbal hasil obligasi pemerintah AS begitu tinggi—ekspektasi bahwa inflasi akan terus naik," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa ekonomi global bisa menuju pendaratan keras (hard landing).
Gangguan pasokan tidak hanya berasal dari konflik di Timur Tengah. Serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia turut memperparah situasi. Meskipun pemerintah AS menyatakan arus minyak Timur Tengah telah kembali mendekati normal, para analis dan pelacak kapal tanker menilai gangguan masih serius. Data pelayaran awal menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 15 kapal. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kelancaran distribusi minyak global.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kembali mengeluarkan peringatan bahwa Israel akan "melumpuhkan" infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi, jika Teheran menyerang. Sementara itu, tiga sumber senior Iran mengungkapkan bahwa kampanye AS untuk menekan ekonomi Iran melalui blokade ekspor minyak semakin sulit ditahan. Kombinasi ini, menurut Tim Waterer dari KCM Trade, "cukup untuk menghitung ulang risiko lebih tinggi."
Di tengah ketidakpastian ini, sejumlah lembaga keuangan merevisi proyeksi harga minyak. Citi menaikkan perkiraan harga rata-rata Brent untuk kuartal ketiga menjadi 86 dolar AS per barel dari sebelumnya 80 dolar AS, dengan alasan pembukaan kembali Selat Hormuz berjalan lebih lambat dari perkiraan. ANZ bahkan memproyeksikan Brent bisa mencapai 95 dolar AS dalam jangka pendek, dengan risiko kenaikan lebih lanjut jika konflik Timur Tengah meningkat.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, impor energi yang semakin mahal akan menekan anggaran negara dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, tekanan inflasi dari harga pangan dan transportasi dapat memaksa Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan lebih lama, yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Pemerintah pun dihadapkan pada dilema antara menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi atau mengikuti mekanisme pasar.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah dan efektivitas diplomasi internasional. Apakah gencatan senjata akan tercapai, atau justru terjadi blokade total di Selat Hormuz? Jawabannya akan menentukan tidak hanya stabilitas energi global, tetapi juga laju pemulihan ekonomi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.



