Peta Habitat Pesisir Singapura: NParks Luncurkan Studi Ketiga untuk Ukur Dampak Perubahan Iklim
Baca dalam 60 detik
- Studi pemetaan habitat pesisir dan laut terbaru Singapura akan menjadi tolok ukur ketiga sejak 2011, menyasar seluruh garis pantai kecuali Perairan Pedra Branca.
- Tender yang dibuka 25 Agustus ini digadang-gadang menjadi instrumen kunci dalam perencanaan ruang laut dan adaptasi perubahan iklim, dengan data yang akan dipublikasikan untuk publik.
- Meski berdekatan dengan wacana reklamasi pulau barat, NParks menegaskan studi ini murni untuk pemantauan berkala dan tidak terkait langsung dengan proyek tersebut.

Singapura kembali memetakan seluruh ekosistem pesisir dan lautnya dalam studi nasional ketiga sejak 2011. Langkah ini menjadi sinyal penting bagi upaya konservasi dan adaptasi perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menyediakan data terbuka yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat tata kelola wilayah pesisirnya.
Otoritas Taman Nasional Singapura (NParks) resmi membuka tender pada 25 Agustus lalu dengan tajuk "Pemetaan Luas Habitat Pesisir dan Laut serta Tipe Garis Pantai di Singapura". Proyek ini mencakup seluruh garis pantai daratan utama beserta pulau-pulau lepas dan terumbu karang di sekitarnya, dengan pengecualian pada perairan laut di sekitar Pedra Branca. Dokumen tender yang dipublikasikan melalui portal pengadaan pemerintah GeBIZ menunjukkan bahwa Pulau Ubin, khususnya kawasan Chek Jawa, dan Pulau Semakau ditetapkan sebagai lokasi verifikasi lapangan untuk menguji akurasi data satelit.
Yang menarik, pengumuman tender ini hanya berselang dua hari setelah Perdana Menteri Lawrence Wong, dalam pidato National Day Rally pada 23 Agustus, mengemukakan gagasan penggabungan sejumlah pulau di sebelah barat Singapura untuk mendukung industri baru dan kebutuhan pembangkit listrik masa depan. Namun, NParks dengan tegas membantah adanya keterkaitan antara studi pemetaan ini dengan wacana reklamasi tersebut. Dalam keterangan resminya, NParks menyatakan bahwa tender ini merupakan bagian dari upaya rutin untuk memetakan habitat pesisir dan laut, dan ini adalah kali ketiga dilakukan sejak 2011.
Dr Karenne Tun, direktur kelompok Pusat Biodiversitas Nasional NParks, menjelaskan bahwa studi ini akan menyempurnakan peta habitat yang telah disusun pada 2011 dan 2018, sekaligus mengukur perubahan yang terjadi sejak periode terakhir. "Peta yang diperbarui akan mendukung perencanaan ruang laut dan konservasi di seluruh Singapura, serta melengkapi studi penelitian yang sedang dan akan berjalan di bawah Program Sains Perubahan Iklim Kelautan NParks dan lembaga lainnya. Seperti upaya pemetaan sebelumnya, data geospasial dari studi ini akan tersedia untuk publik," ujarnya.
Studi ini tidak hanya berhenti pada pemetaan, tetapi juga menuntut kontraktor terpilih untuk mengidentifikasi dan mengukur perubahan antara peta habitat dari tahun 2011, 2018, dan proyeksi 2026. Tender yang berakhir pada 21 September ini menjadi kelanjutan dari proyek serupa yang pernah diberikan kepada konsultan keberlanjutan Hydrobiology Singapura pada Juli 2019. Dengan tenggat yang ketat, studi ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika ekosistem pesisir Singapura dalam satu dekade terakhir.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan garis pantai yang jauh lebih panjang dan kekayaan biodiversitas laut yang melimpah, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pemutakhiran data spasial pesisir. Studi serupa dapat menjadi model bagi pemerintah Indonesia untuk membangun basis data yang akurat dan terbuka, yang esensial dalam menghadapi tekanan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Keterbukaan data yang dipraktikkan NParks juga sejalan dengan semangat keterbukaan informasi publik yang mulai digalakkan di tanah air.
Ke depan, publik tentu menantikan hasil pemetaan ini, terutama bagaimana data tersebut akan digunakan dalam pengambilan keputusan terkait reklamasi dan pembangunan pesisir. Apakah data ini akan menjadi alat untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi, atau justru menjadi legitimasi bagi proyek-proyek yang berpotensi merusak lingkungan? Hanya waktu yang akan membuktikan, namun komitmen NParks untuk mempublikasikan data merupakan langkah positif yang patut dicontoh.



