Buru Penyerang Gagal Total: Moyes Akui Everton Alami Hari Terburuk di Bursa Transfer
Baca dalam 60 detik
- Everton kehilangan Iliman Ndiaye ke Manchester City senilai £65 juta dan gagal mendatangkan penggantinya di hari pamungkas bursa transfer.
- Kesepakatan dengan Folarin Balogun batal setelah pemain berubah pikiran pasca tes medis, memaksa klub menelan pil pahit di tengah tekanan finansial.
- Manajer David Moyes kini harus meramu strategi darurat dengan skuad yang ada, sementara suporter mulai mempertanyakan arah kebijakan transfer klub.

Bursa transfer musim dingin ditutup dengan kekecewaan mendalam bagi Everton. Manajer David Moyes secara terbuka mengakui bahwa timnya gagal memanfaatkan momen krusial untuk memperkuat skuad, setelah sejumlah target utama batal direkrut di hari terakhir jendela transfer. Kekalahan dalam perburuan pemain ini tidak hanya menggagalkan rencana taktis, tetapi juga memicu gelombang kritik dari para pendukung yang mulai kehilangan kesabaran terhadap arah kebijakan klub.
Kegagalan paling menyakitkan datang dari upaya mendatangkan penyerang AS Monaco, Folarin Balogun. Pemain berusia 25 tahun itu sebenarnya telah menjalani tes medis di fasilitas latihan Finch Farm, namun tiba-tiba mengubah keputusannya dan membatalkan transfer. Padahal, kedua klub telah menandatangani dokumen kesepakatan sebelum tenggat waktu 23:00 BST untuk memberi ruang negosiasi tambahan. Masalah medis yang ditemukan memaksa nilai transfer awal £40 juta dinegosiasikan ulang, tetapi pada akhirnya pemain memilih mundur.
Kekosongan di lini depan menjadi semakin kritis setelah Everton melepas Iliman Ndiaye ke Manchester City dengan nilai fantastis £65 juta. Pemain asal Senegal itu merupakan kontributor utama dengan torehan 15 gol dan empat assist dalam 67 penampilan Premier League. Moyes mengakui bahwa penjualan ini dilakukan untuk mendatangkan dana segar, namun ia tidak menampik bahwa kehilangan pemain sekaliber Ndiaye adalah pukulan telak. "Kami tidak ingin kehilangannya, tetapi sulit menolak ketika Manchester City datang," ujarnya.
Upaya mencari pengganti pun berjalan alot. Everton sempat mencoba merekrut Joshua Zirkzee dari Manchester United dan Tammy Abraham dari Aston Villa, namun keduanya menolak pindah ke Goodison Park. Satu-satunya tambahan yang berhasil diamankan adalah bek kanan Ainsley Maitland-Niles dari Lyon dengan biaya £3 juta, serta Jack Grealish yang dipinjam dari Manchester City selama satu musim. Namun, langkah tersebut dinilai tidak cukup untuk menambal lubang yang ditinggalkan Ndiaye.
Moyes, yang dikenal sebagai manajer pragmatis, mencoba meredam gejolak dengan pernyataan yang menenangkan. "Dalam sepak bola, kadang kita harus hidup dengan kekecewaan dan melanjutkan hidup. Kami akan melakukannya," katanya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada cerita lain di balik batalnya transfer Balogun, hanya masalah medis yang menjadi penyebab. Namun, pernyataan tersebut tidak serta-merta meredakan kekhawatiran para penggemar yang melihat klubnya semakin tertinggal dari rival-rivalnya.
Kegagalan ini juga menyoroti masalah struktural dalam manajemen transfer Everton. Selain kehilangan Ndiaye, mereka juga gagal mendapatkan bek Kenny Tete dari Fulham karena klub asal London itu tidak menemukan pengganti yang sesuai. Moyes mengakui bahwa ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai rencana, tetapi ia menolak menyalahkan pihak mana pun. "Beberapa hal melawan kami, dan beberapa hal bisa kami lakukan lebih baik," ujarnya dengan nada pasrah.
Bagi Everton, konsekuensi dari bursa transfer yang buruk ini bisa berdampak jangka panjang. Dengan skuad yang tidak diperkuat secara signifikan, tim harus berjuang keras di sisa musim untuk mengamankan posisi di papan tengah klasemen. Tekanan kini berada di pundak Moyes untuk meramu strategi dari pemain yang ada, sementara para pendukung mulai bersuara lantang mempertanyakan ambisi klub. Apakah Everton mampu bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan semakin terpuruk dalam persaingan ketat Liga Premier?



