JFA Tunjuk Go Oiwa sebagai Pelatih Baru Timnas Jepang, Moriyasu Bertahan Hingga Piala Asia
Baca dalam 60 detik
- Go Oiwa, pelatih U-21 Jepang, dipromosikan menangani tim senior mulai tahun depan menggantikan Hajime Moriyasu.
- Moriyasu tetap menjabat hingga Piala Asia 2027 di Arab Saudi, setelah gagal membawa Jepang lolos ke 16 besar Piala Dunia 2026.
- Oiwa diharapkan membawa pengalaman juara Liga Champions Asia dan Olimpiade untuk membangun generasi baru Samurai Blue.

Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) mengambil langkah strategis dengan mempromosikan Go Oiwa, pelatih tim nasional U-21, menjadi nahkoda tim senior Samurai Blue. Keputusan ini diumumkan Kamis (23/7) sebagai bagian dari rencana transisi kepelatihan jangka panjang, di tengah tekanan untuk memperbaiki performa Jepang di pentas internasional.
Hajime Moriyasu, yang telah menukangi Jepang sejak 2018, tetap akan menduduki kursi pelatih hingga awal tahun depan melalui kontrak jangka pendek yang tidak lazim. Ia diinstruksikan membawa Jepang berlaga di Piala Asia 2027 di Arab Saudi pada Januari-Februari mendatang. Setelah itu, Oiwa akan mengambil alih penuh tim senior pada Maret 2027, sambil tetap membimbing skuad U-21 yang tengah berjuang menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Keputusan ini muncul setelah kegagalan Jepang di Piala Dunia 2026 yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Samurai Blue hanya mampu finis kedua di Grup F dengan satu kemenangan dan dua hasil imbang, lalu tersingkir di babak 32 besar setelah kalah 2-1 dari Brasil. Hasil itu kembali menunda ambisi Jepang untuk meraih kemenangan perdana di fase gugur Piala Dunia.
Bagi sepak bola Asia, transisi kepelatihan Jepang ini menjadi perhatian. Jepang selama ini menjadi tolok ukur kekuatan Asia bersama Korea Selatan dan Australia. Kegagalan di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa persaingan semakin ketat, terutama dengan munculnya tim-tim Timur Tengah yang agresif. Oiwa diharapkan membawa pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap sepak bola modern.
Di Indonesia, pergantian pelatih Jepang ini bisa menjadi pelajaran berharga. PSSI sendiri tengah gencar membangun program pembinaan usia muda dan mencari pelatih asing untuk timnas senior. Konsistensi Jepang dalam memadukan pelatih lokal berprestasi dengan regenerasi terencana patut dicermati. Apalagi, Indonesia juga memiliki target ambisius untuk tampil di Piala Dunia 2034.
Oiwa bukan nama asing di kancah Asia. Pria kelahiran Shizuoka ini memulai karier kepelatihan di Kashima Antlers pada 2017 dan langsung mempersembahkan gelar Liga Champions Asia setahun kemudian. Prestasinya bersama kelompok umurโmembawa Jepang ke perempat final Olimpiade Paris 2024 dan dua kali juara Piala Asia U-23โmenjadi modal berharga untuk menangani tim senior yang tengah dalam masa transisi.
Dengan skema kepelatihan ganda ini, JFA tampaknya ingin memastikan kesinambungan filosofi permainan tanpa mengorbankan hasil jangka pendek. Pertanyaan besarnya: mampukah Oiwa mengulang sukses level junior di pentas senior, terutama ketika menghadapi raksasa seperti Brasil, Jerman, atau Spanyol? Ataukah Jepang akan kembali terjebak dalam siklus 'hampir berhasil' yang sudah berlangsung puluhan tahun?



