De la Fuente Santai Hadapi Final Piala Dunia: Hanya Helikopter yang Bikin Grogi
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Spanyol Luis de la Fuente bercanda bahwa satu-satunya hal yang membuatnya gugup jelang final Piala Dunia adalah perjalanan helikopter, bukan laga melawan Argentina.
- Spanyol berambisi merebut gelar Piala Dunia pertama sejak 2010, sementara Argentina mengincar gelar beruntun dengan Lionel Messi sebagai motor serangan.
- De la Fuente menegaskan timnya akan fokus pada permainan teknis dan tidak akan menggunakan penjagaan ketat satu lawan satu terhadap Messi.

Pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, menunjukkan sikap tenang dan humoris saat menghadapi konferensi pers jelang final Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Satu-satunya hal yang membuatnya gelisah, menurut candaannya, bukanlah laga puncak yang menanti, melainkan perjalanan pulang dengan helikopter setelah acara. "Saya cukup gugup karena kami akan kembali naik helikopter. Itu benar-benar membuat saya grogi. Selain itu, saya benar-benar tenang," ujarnya di New York, Jumat (17/7).
Pertandingan final yang akan berlangsung pada Minggu (19/7) mempertemukan dua raksasa sepak bola. Spanyol, yang menjadi juara Eropa di bawah asuhan De la Fuente, mengincar gelar Piala Dunia pertama sejak 2010. Sementara itu, Argentina datang sebagai juara bertahan dan kembali diperkuat Lionel Messi yang tengah mengejar gelar kedua beruntun. De la Fuente menolak anggapan bahwa hanya juara yang dikenang. Menurutnya, mencapai final adalah sebuah hak istimewa. "Saya akan senang mencapai final Piala Dunia setiap tahun dan kalah. Tapi yang terpenting adalah memiliki kesempatan untuk memperebutkan gelar," katanya.
De la Fuente memprediksi pertandingan akan diwarnai kualitas teknis tinggi, bukan permainan psikologis. Ia menilai Spanyol dan Argentina memiliki banyak kesamaan dalam gaya dan semangat bermain. "Kedua tim sama-sama ingin menampilkan sepak bola brilian, penuh bakat, dan indah. Saya yakin faktor teknis akan lebih dominan daripada faktor lainnya," ujarnya.
Salah satu topik hangat adalah bagaimana Spanyol akan menghadapi Lionel Messi. De la Fuente mengingat pengalamannya melatih tim muda Sevilla saat berhadapan dengan Barcelona. Saat itu, ia menerapkan penjagaan ketat satu lawan satu terhadap Messi. Hingga menit ke-70, skor masih 0-0. Namun, setelah pemain yang menjaga Messi dikeluarkan karena kartu, Messi mencetak empat gol dalam 15 menit. "Apa artinya ini? Kami tidak akan menjaganya satu lawan satu, tapi kami akan mengawasinya dengan sangat ketat," tegas De la Fuente.
Perbandingan antara Messi dan bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, juga mengemuka. De la Fuente enggan membebani Yamal dengan ekspektasi berlebihan. "Messi adalah pemain unik, bakat luar biasa, dan teladan bagi atlet muda. Tapi Lamine harus menjadi dirinya sendiri. Cara terbaik membantunya adalah mendukungnya agar tetap menjadi Lamine yang kita kenal," ujarnya. Yamal sempat absen latihan karena cedera paha, namun De la Fuente memastikan kondisinya prima dan telah berlatih normal.
Spanyol juga harus beradaptasi dengan ritme turnamen yang tidak biasa, termasuk jeda hidrasi dan pertunjukan paruh waktu yang lebih panjang. De la Fuente mengaku sudah membahas hal ini dengan pemain sejak sebelum turnamen dimulai pada Mei lalu. "Saya katakan, 'Hadirin sekalian, beginilah adanya!' Tidak ada satu pun keluhan. Adaptasi berarti menerima apa yang tidak bisa diubah, dan karena tidak bisa diubah, lebih baik dinikmati," pungkasnya.
Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina diprediksi akan menjadi laga sengit yang sarat gengsi. Pertanyaan besarnya: mampukah Spanyol mengakhiri puasa gelar 16 tahun, atau akankah Argentina kembali menunjukkan dominasinya di panggung sepak bola dunia?



