Perebutan Medali Perunggu Piala Dunia: Laga Tak Diinginkan yang Punya Nilai Tersendiri
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia antara Inggris dan Prancis menuai kritik dari para pelatih yang menganggapnya tidak perlu.
- Di balik keengganan, laga ini menyimpan insentif finansial hingga 2 juta dolar AS dan peluang pemain muda tampil.
- Sejarah mencatat laga ini kerap menghasilkan gol dan bahkan memengaruhi perebutan Sepatu Emas turnamen.

Pertandingan perebutan medali perunggu Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Prancis, yang akan digelar Sabtu ini di Miami, kembali memicu perdebatan: apakah laga yang oleh banyak pihak disebut sebagai 'hadiah hiburan' ini layak dipertahankan? Pelatih kedua tim, Didier Deschamps dan Thomas Tuchel, secara blak-blakan mengaku enggan memainkan laga tersebut, namun di sisi lain, partai ini menyimpan nilai historis dan finansial yang tidak bisa diabaikan.
Deschamps, juru taktik Prancis, menyatakan bahwa idealnya laga ini tidak perlu ada. Senada dengannya, Tuchel setelah kekalahan dari Argentina mengatakan tidak ada pemain yang menginginkan laga ini. Namun, sehari menjelang pertandingan, Tuchel mengubah nada bicaranya. Ia menegaskan bahwa kemenangan akan memberikan Inggris hasil terbaik di Piala Dunia dalam 60 tahun terakhir. "Ini adalah perspektif yang patut diperjuangkan," ujarnya.
Bagi para pemain yang minim menit bermain, laga ini menjadi ajang unjuk gigi. Inggris berencana memberikan debut Piala Dunia kepada kiper James Trafford atau gelandang muda Kobbie Mainoo. Sebaliknya, bek Prancis Ibrahima Konate, yang baru bermain 14 menit sepanjang turnamen, tidak antusias. "Tidak satu pun dari kami ingin memainkan laga ini. Tapi kami tidak punya pilihan," katanya.
Secara historis, laga ini kerap dipandang sebelah mata. Pelatih Belanda Louis van Gaal pada 2014 menyebutnya tidak adil, sementara pelatih Maroko Walid Regragui menjulukinya sebagai 'hadiah hiburan'. Namun, ada pula yang melihat sisi positif. Pelatih Kroasia Zlatko Dalic, setelah timnya mengalahkan Maroko pada 2022, mengatakan medali perunggu memiliki 'lapisan emas'. "Kami memenangkan medali perunggu dan itu seperti memenangkan emas malam ini," ujarnya.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola, perdebatan ini relevan. Jika Piala Dunia diperluas menjadi 64 tim pada masa depan, jumlah laga bisa membengkak menjadi 128, memicu pertanyaan tentang keberlanjutan laga perebutan tempat ketiga. Namun, bagi negara-negara yang jarang menembus semifinal, medali perunggu tetap menjadi prestasi yang membanggakan. Pertanyaannya, apakah FIFA akan mempertahankan tradisi ini di tengah padatnya jadwal turnamen?



