Ferguson Sebut Keegan Arsitek Newcastle Terbaik Sepanjang Masa
Baca dalam 60 detik
- Sir Alex Ferguson menilai Kevin Keegan berhasil membangun skuad Newcastle United paling gemilang dalam sejarah klub.
- Keegan membawa tiga pemain bintang—Ginola, Asprilla, Albert—yang membuat persaingan dengan Manchester United kian sengit pada era 1990-an.
- Ferguson memuji Keegan sebagai sosok tanpa dendam, yang mampu mencairkan rivalitas panas di lapangan hijau.

Sir Alex Ferguson, manajer legendaris Manchester United, memberikan penghormatan mendalam kepada Kevin Keegan yang meninggal dunia pada usia 75 tahun. Dalam wawancara dengan Track Radio, Ferguson menyebut Keegan sebagai sosok yang membangun tim terbaik Newcastle United sepanjang sejarah.
Keegan, yang menangani Newcastle pada periode 1992–1997, berhasil membawa klub promosi ke Premier League pada musim 1992–93 dan nyaris merebut gelar juara pada 1995–96 sebelum akhirnya kalah dari Manchester United. Ferguson mengakui bahwa persaingan dengan Newcastle di masa itu sangat berat, terutama setelah Keegan mendatangkan pemain-pemain kelas dunia seperti David Ginola, Faustino Asprilla, dan Philippe Albert.
“Dia menghidupkan kembali klub itu dengan antusiasme dan fanatisme yang luar biasa. Tiga pemain yang dibawanya menambah kelas tersendiri,” ujar Ferguson. Menurutnya, Keegan adalah sosok yang membawa cinta sepak bola di lengan bajunya, dan hal itu menular ke suporter serta pemain.
Persaingan keduanya mencapai puncak ketika Newcastle kehilangan keunggulan 12 poin dan kalah gelar dari Manchester United. Momen ikonik terjadi saat Keegan melontarkan kalimat “I will love it if we beat them” dalam sebuah wawancara televisi yang ditujukan kepada Ferguson. Namun, Ferguson menegaskan bahwa Keegan tidak pernah menyimpan dendam. Beberapa pekan setelah musim berakhir, mereka bertemu di Wentworth Golf Club dan menghabiskan malam bersama tanpa rasa permusuhan.
“Hal hebat tentang dia, dia tidak pernah menyimpan dendam. Itu kualitas fantastis,” kenang Ferguson.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Keegan menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal taktik, tetapi juga tentang gairah dan kepribadian. Di era di mana persaingan seringkali berujung permusuhan abadi, hubungan Ferguson dan Keegan menunjukkan bahwa rivalitas bisa berakhir dengan saling menghormati. Pelajaran ini relevan di tengah rivalitas panas di Liga Indonesia, di mana sportivitas kadang terlupakan.
Keegan juga dikenang sebagai pemain yang brilian. Bersama Liverpool, ia memenangkan tiga gelar liga, Piala Eropa, dua Piala UEFA, dan Piala FA. Ia menjadi satu dari hanya empat pemain Inggris yang meraih Ballon d'Or dua kali berturut-turut. Sebagai manajer, ia menangani Fulham, Manchester City, dan tim nasional Inggris. Alan Shearer, yang direkrut Keegan dengan rekor transfer £15 juta, menyebut Keegan sebagai sahabat yang penuh gairah dan energi. Manajer Newcastle saat ini, Eddie Howe, juga mengaku terinspirasi oleh Keegan sejak kecil.
Legenda Liverpool, Kenny Dalglish, menambahkan bahwa Keegan adalah salah satu pemain terbaik generasinya dan seorang pria sejati. “Sepak bola kehilangan salah satu tokoh terbesarnya,” ujar Dalglish. Phil Thompson, rekan setim di Liverpool dan Inggris, menyebut Keegan sebagai orang terbaik yang pernah dikenal dalam sepak bola. “Kerendahan hati mengalir dalam darah Kevin,” katanya.
Ke depan, warisan Keegan akan terus hidup melalui gaya bermain menyerang yang ia tanamkan di Newcastle. Pertanyaan besarnya, akankah ada lagi sosok seperti Keegan yang mampu membangkitkan klub dengan karisma murni, tanpa bergantung pada kekuatan finansial semata?



