Trump Kembali ke Panggung Piala Dunia 2026: Kontroversi dan Ambisi Tuan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump akan hadir di final Piala Dunia 2026 bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, setelah terlibat dalam kontroversi kartu merah pemain AS.
- Trump mendorong agar AS menjadi tuan rumah tunggal Piala Dunia 2038, meninggalkan Kanada dan Meksiko, menambah ketegangan politik dalam olahraga global.
- Kehadiran Trump di final menimbulkan tantangan bagi penyiar Fox Sports karena potensi reaksi beragam dari penonton di stadion dan layar kaca.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan kembali menjadi sorotan utama di final Piala Dunia 2026, Minggu (19/7), setelah perannya dalam salah satu drama paling kontroversial turnamen ini. Trump dijadwalkan duduk bersama Presiden FIFA Gianni Infantino dan berpeluang menyerahkan trofi kepada pemenang, sebuah peran yang pernah ia lakukan di Piala Dunia Antarklub tahun lalu.
Kemunculan Trump terjadi hanya beberapa hari setelah ia mengakui telah meminta Infantino meninjau kartu merah yang diterima penyerang AS, Folarin Balogun. Langkah itu memicu perdebatan sengit mengenai keadilan dan netralitas wasit dalam turnamen yang juga diikuti Kanada dan Meksiko. Meski FIFA menegaskan Trump tidak ikut campur dalam keputusan teknis, pengaruh politiknya tetap terasa.
Hubungan erat Trump dan Infantino terlihat dalam resepsi di Trump Tower, Manhattan, Jumat (17/7). Di hadapan sekitar 300 undangan, termasuk legenda Brasil Ronaldo, Infantino memuji Trump: โPiala Dunia ini tidak akan sukses tanpa Anda.โ Trump pun membalas dengan menyebut Amerika sebagai โnegara sepak bolaโ dan mengisyaratkan keinginan AS menjadi tuan rumah tunggal Piala Dunia 2038, tanpa Kanada dan Meksiko.
Ambisi Trump untuk menjadi pusat perhatian di ajang olahraga bukan hal baru. Dalam 18 bulan terakhir, ia kerap tampil di acara besar seperti Ryder Cup dan NBA Finals, meski sambutan publik kerap beragam. Di final NBA, ia mendapat cemoohan keras, sementara di AS Terbuka tahun lalu, pengamanan presiden membuat banyak penonton terlambat masuk stadion.
Kehadiran Trump di final Piala Dunia menimbulkan dilema bagi Fox Sports, penyiar resmi di AS. John Strong, komentator play-by-play, mengakui pihaknya tidak memiliki kendali penuh atas tayangan karena menggunakan siaran global. โKami tidak tahu kapan kamera akan menyorotnya. Ada yang antusias, ada pula yang tidak senang melihatnya di layar,โ ujar Strong.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat sepak bola adalah olahraga paling populer di tanah air. Kontroversi politik yang membayangi Piala Dunia 2026 bisa memengaruhi persepsi publik terhadap FIFA dan turnamen global. Selain itu, langkah Trump yang ingin memonopoli tuan rumah Piala Dunia 2038 dapat mengubah peta penyelenggaraan turnamen di masa depan, termasuk peluang negara-negara Asia seperti Indonesia untuk menjadi tuan rumah.
FIFA secara resmi menunjuk AS, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama pada 2018, saat Trump masih menjabat periode pertama. Namun, hubungan yang renggang dengan mitra dan ancaman memindahkan pertandingan dari kota yang dikuasai Demokrat menunjukkan bahwa politik dalam negeri AS ikut mewarnai turnamen. Infantino, yang selama ini dekat dengan Trump, tampaknya enggan berselisih dengan presiden AS yang masih berkuasa.
Pertanyaan besarnya, apakah kehadiran Trump akan meningkatkan atau justru mereduksi kredibilitas Piala Dunia? Dengan polarisasi yang kian tajam, final tahun ini bisa menjadi panggung politik yang tak terduga, meninggalkan warisan yang sulit dilupakan.



