Spanyol Kembali ke Puncak Ranking FIFA, Maroko Catat Sejarah Baru
Baca dalam 60 detik
- Spanyol naik ke peringkat satu ranking FIFA usai mengalahkan Argentina di final, sementara Argentina turun ke posisi dua.
- Maroko menembus peringkat enam, posisi tertinggi sepanjang sejarah mereka, setelah tampil impresif di Piala Dunia.
- Jerman terlempar dari 10 besar, sementara Norwegia menjadi negara dengan lonjakan peringkat terbesar.

Spanyol kembali menduduki posisi puncak ranking FIFA pria setelah sukses mengalahkan Argentina di partai final Piala Dunia. Kemenangan tipis 1-0 melalui babak perpanjangan waktu pada Minggu (19/7) itu mengakhiri dominasi Argentina yang sebelumnya bertahan sebagai juara bertahan sejak 2022.
Bagi Spanyol, ini adalah kali pertama mereka memimpin klasemen sejak Januari lalu. Tim asuhan Luis de la Fuente kini mengoleksi poin yang cukup untuk menggeser Argentina yang turun ke peringkat kedua. Pergeseran ini sekaligus menandai persaingan ketat di level tertinggi sepak bola dunia, di mana gelar juara menjadi penentu utama dalam perhitungan poin FIFA.
Di belakang dua raksasa tersebut, Prancis dan Inggris tetap bertahan di posisi ketiga dan keempat. Meski Inggris berhasil merebut medali perunggu setelah mengalahkan Prancis, hal itu belum cukup untuk mengubah posisi mereka dalam ranking. Brasil naik satu tingkat ke peringkat kelima, sementara Maroko mencatat sejarah baru dengan menembus posisi keenam โ pencapaian tertinggi sepanjang sejarah sepak bola negara tersebut.
Portugal harus rela turun dua tingkat ke peringkat ketujuh setelah tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia. Sementara itu, Belgia naik satu peringkat ke posisi kedelapan, menukar tempat dengan Belanda yang kini berada di urutan kesembilan. Meksiko sukses menembus 10 besar setelah naik empat peringkat, menjadi negara Amerika Latin lainnya yang menunjukkan peningkatan signifikan.
Di luar 10 besar, Norwegia menjadi negara dengan lonjakan peringkat terbesar. Tim yang diperkuat Erling Haaland itu naik 12 peringkat ke posisi 19 setelah berhasil melaju hingga perempat final Piala Dunia. Sebaliknya, Jerman justru mengalami kemunduran dengan keluar dari 10 besar dan turun ke peringkat 12, hanya unggul satu tingkat dari Kroasia. Italia, yang gagal lolos ke Piala Dunia, merosot ke peringkat 15.
Bagi Indonesia, perubahan ranking FIFA ini menjadi cerminan betapa dinamisnya persaingan sepak bola global. Meskipun Timnas Indonesia masih berada di luar 100 besar, tren kenaikan negara-negara Afrika seperti Maroko dan Mesir (naik ke peringkat 24) bisa menjadi inspirasi. Keberhasilan Maroko yang konsisten menembus jajaran elit dunia menunjukkan bahwa investasi pada pembinaan pemain dan kompetisi domestik yang kuat mampu mendongkrak prestasi internasional.
Di kawasan Asia, belum ada perubahan signifikan yang memengaruhi posisi Indonesia secara langsung. Namun, dengan sistem ranking FIFA yang terus diperbarui, setiap kemenangan dalam laga resmi menjadi krusial. Pertanyaan selanjutnya adalah: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk terus merangkak naik, atau justru akan tertinggal semakin jauh dari negara-negara yang mengalami kemajuan pesat?



