Dari Pele hingga Messi: Final Piala Dunia Terbaik Sepanjang Masa
Baca dalam 60 detik
- BBC merilis peringkat 10 final Piala Dunia terbaik, dengan Brasil 1970 di puncak sebagai pertunjukan sepak bola paling sempurna.
- Final 2022 antara Argentina dan Prancis dinobatkan sebagai yang paling dramatis, menampilkan duel Messi vs Mbappe yang legendaris.
- Peringkat ini mengukur kombinasi gol, drama, bintang, dan warisan, bukan sekadar skor akhir.

Brasil 1970 masih dianggap sebagai standar emas final Piala Dunia, namun pertandingan-pertandingan lain seperti Argentina 2022 dan Inggris 1966 juga menyajikan drama yang tak terlupakan. Dalam sebuah daftar yang baru dirilis, BBC meranking sepuluh final terbaik sepanjang sejarah turnamen, dengan mempertimbangkan faktor gol, ketegangan, performa pemain bintang, serta dampak jangka panjang bagi sepak bola global.
Di posisi teratas, Brasil 1970 yang menghadapi Italia di Stadion Azteca, Mexico City, dinobatkan sebagai final terbaik. Tim yang diperkuat Pele, Jairzinho, Tostao, dan Rivellino itu tampil memukau dengan kemenangan 4-1. Gol penutup Carlos Alberto, hasil umpan dari Pele, kerap disebut sebagai gol terindah dalam sejarah final Piala Dunia. Kemenangan itu juga mengukuhkan Brasil sebagai pemegang tetap trofi Jules Rimet setelah meraih gelar ketiga.
Peringkat kedua ditempati final 2022 antara Argentina dan Prancis. Laga di Qatar itu menyajikan drama luar biasa: Argentina unggul 2-0, lalu Kylian Mbappe mencetak dua gol dalam 90 detik untuk menyamakan kedudukan. Di perpanjangan waktu, Lionel Messi kembali membawa Argentina unggul, namun Mbappe mencetak hat-trick untuk memaksa adu penalti. Kiper Argentina Emiliano Martinez menjadi pahlawan dengan penyelamatan krusial. Kemenangan ini mengakhiri puasa gelar Argentina sejak 1986 dan mengukuhkan status Messi sebagai legenda.
Final 1966 antara Inggris dan Jerman Barat menempati urutan ketiga. Inggris yang menjadi tuan rumah tertinggal lebih dulu, namun berbalik unggul 2-1 sebelum Jerman menyamakan skor di menit ke-89. Di perpanjangan waktu, Geoff Hurst mencetak gol kontroversial yang memantul dari mistar gawang, kemudian menambah satu gol lagi untuk melengkapi hat-trick. Komentator Kenneth Wolstenholme mengabadikan momen itu dengan kalimat legendaris, "They think it's all over... it is now!"
Final 1998 di Prancis menjadi saksi kelahiran bintang Zinedine Zidane. Prancis yang menjadi tuan rumah mengalahkan Brasil 3-0, dengan Zidane mencetak dua gol lewat sundulan. Pertandingan ini juga diwarnai kontroversi: striker Brasil Ronaldo mengalami kejang-kejang sebelum laga namun tetap dimainkan, dan penampilannya jauh di bawah standar. Kemenangan ini menjadi simbol keberagaman Prancis, seperti diungkapkan bek Lilian Thuram.
Final 1986 di Meksiko menjadi panggung Diego Maradona. Argentina unggul 2-0, lalu Jerman Barat menyamakan kedudukan, sebelum Maradona memberikan umpan terobosan brilian kepada Jorge Burruchaga untuk mencetak gol kemenangan. Maradona, yang mencetak lima gol dan lima assist sepanjang turnamen, mengangkat trofi untuk pertama kalinya.
Final 1954, yang dikenal sebagai "Keajaiban Bern", menempati peringkat kelima. Hongaria yang diunggulkan unggul 2-0 dalam delapan menit, namun Jerman Barat bangkit dan menang 3-2. Kekalahan itu menjadi trauma bagi Hongaria yang tak pernah mencapai final lagi. Sementara itu, final 1974 antara Jerman Barat dan Belanda menampilkan "Total Football" ala Johan Cruyff, namun Jerman menang 2-1 setelah tertinggal lebih dulu.
Final 2006 diwarnai insiden kepala Zinedine Zidane yang menanduk Marco Materazzi, membuatnya diusir keluar lapangan. Italia akhirnya menang adu penalti. Final 2002 menjadi momen penebusan Ronaldo, yang mencetak dua gol untuk membawa Brasil mengalahkan Jerman 2-0, setelah mengalami cedera parah dan trauma kekalahan final 1998.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, daftar ini mengingatkan bahwa Piala Dunia selalu menyajikan momen-momen yang melampaui sekadar olahraga. Dari keajaiban Pele di usia 17 tahun hingga duel generasi Messi dan Mbappe, setiap final memiliki cerita yang memperkaya sejarah sepak bola dunia. Pertanyaannya, mampukah Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menghadirkan final yang sebanding dengan deretan laga legendaris ini?



