Messi Pamit: Argentina Berduka, Sebuah Era Berakhir di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 memupus harapan Argentina meraih gelar juara berturut-turut sekaligus menandai laga terakhir Lionel Messi di turnamen akbar.
- Para penggemar di Buenos Aires mengekspresikan duka mendalam atas kepergian Messi, yang dianggap sebagai simbol kebangkitan dan kegigihan bangsa Argentina.
- Perpisahan dengan Messi membuka tanda tanya besar soal masa depan timnas Argentina, terutama dalam regenerasi pemain bintang di level internasional.

Tangis dan keheningan menyelimuti Buenos Aires setelah Argentina takluk 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, sekaligus mengakhiri perjalanan Lionel Messi di panggung terbesar sepak bola. Bagi jutaan pendukung, kekalahan ini bukan sekadar gagal mempertahankan gelar, melainkan pamitnya sang ikon yang telah membawa mereka ke puncak dunia.
Di Cafe Relax, pusat kota Buenos Aires, puluhan penggemar yang sejak pagi memadati bar itu larut dalam kesedihan. Camilo Cichero, mahasiswa arsitektur 22 tahun, mengaku hampa. "Saya merasa kosong. Kosong karena Messi, karena saya tak akan melihatnya lagi di Piala Dunia. Ini yang terakhir," ujarnya sambil menenangkan temannya yang menangis. Juan Saenz, mahasiswa hukum, menambahkan, "Saya lahir saat Messi bermain, dan ini akhir dari sebuah era."
Perjalanan Argentina di turnamen ini memang penuh liku. Setelah serangkaian kemenangan tipis, optimisme membuncah saat mereka melangkah ke final di New Jersey. Namun, gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu memupus harapan. Suasana di Cafe Relax berubah dari sorak-sorai menjadi hening, meski tepuk tangan tetap diberikan untuk perjuangan tim.
Bagi banyak penggemar, Messi bukan sekadar pemain. Abel Torres, pensiunan 62 tahun, menyebut pertandingan itu "sangat emosional" dan mencerminkan semangat Argentina: bangkit kembali meski menghadapi kesulitan. "Ini bukan Piala Dunia kami kali ini, tetapi tim ini mengajarkan kami untuk tidak pernah menyerah," katanya sambil menahan air mata.
Kritik pun muncul terhadap strategi pelatih. Cichero mengaku kecewa dengan permainan Argentina, termasuk rencana taktik, pergantian pemain, dan keputusan wasit. Namun, di tengah kekecewaan, ribuan penggemar tetap berduyun-duyun ke Obelisk, monumen ikonik tempat perayaan sepak bola, sementara kembang api dan klakson mobil menggema di seluruh kota.
Presiden Javier Milei, melalui akun X, menyampaikan rasa terima kasihnya: "Terima kasih banyak, para pemain!!! Kalian berjuang sampai akhir. Argentina akan selalu berdiri tegak." Ucapan itu mencerminkan sentimen nasional yang tetap menghargai perjuangan tim meski gagal di puncak.
Bagi Indonesia, kepergian Messi dari panggung Piala Dunia juga menjadi pengingat akan pentingnya regenerasi. Di tengah euforia sepak bola Tanah Air, momen ini bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana sebuah bangsa bertransisi dari era seorang legenda. Akankah Argentina mampu menemukan penerus Messi? Atau justru Indonesia yang suatu hari nanti memiliki ikon serupa?



