Jersey Hitam Argentina: Antara Mitos, Sejarah, dan Tekad di Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Argentina akan menggunakan jersey hitam saat menghadapi Inggris di semifinal Piala Dunia, mengulang momen ikonik 1986 dan 1998.
- Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengakui kekuatan superstisi dalam olahraga, meski ia sendiri enggan mengungkap ritualnya.
- Jersey hitam Argentina sarat makna budaya dengan motif fileteado, warisan UNESCO dari Buenos Aires.

Argentina memutuskan untuk tidak mengenakan kostum kebanggaan biru-putih saat melawan Inggris di semifinal Piala Dunia, Rabu (14/7) di Atlanta. Sebagai gantinya, Lionel Messi dan kawan-kawan akan turun dengan jersey hitam—seragam yang menyimpan kenangan manis sekaligus kontroversial dalam sejarah sepak bola negeri Tango.
Keputusan itu bukan sekadar pilihan teknis. Jersey hitam Argentina identik dengan dua momen monumental: kemenangan 2-1 atas Inggris di perempat final 1986, ketika Diego Maradona mencetak "Tangan Tuhan" dan "Gol Abad Ini", serta kemenangan adu penalti di babak 16 besar Piala Dunia 1998 setelah imbang 2-2. Bagi banyak pendukung, seragam itu dianggap membawa keberuntungan.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel memahami logika di balik pilihan tersebut. "Saya akan melakukan hal yang sama jika ada unsur superstisi di dalamnya," ujarnya kepada wartawan, Selasa. Pelatih asal Jerman itu juga mengakui bahwa ritual dan jimat keberuntungan adalah hal lumrah di level tertinggi olahraga. "Saya punya rutinitas superstitius, tapi tidak akan saya ceritakan—soalnya kalau diceritakan, tidak akan manjur lagi," katanya sambil tertawa.
Di sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni justru meremehkan narasi mistis tersebut. "Saya tidak meminta jersey biru. Entah siapa yang memintanya, mungkin ini tradisi," ucapnya singkat. Pernyataan Scaloni seolah ingin meredam tekanan psikologis yang bisa muncul jika terlalu bergantung pada mitos.
Bagi publik sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada kekuatan simbol dalam olahraga. Jersey hitam Argentina bukan sekadar kain; ia menjadi representasi identitas dan kebanggaan yang melampaui logika. Di tengah dominasi analisis data dan taktik modern, unsur psikologis dan budaya tetap memainkan peran penting—seperti halnya atribut keberuntungan yang kerap digunakan pemain atau tim lokal di Liga Indonesia.
Apakah Argentina akan kembali menuai hasil manis dengan jersey hitamnya? Atau justru Inggris yang mampu mematahkan kutukan sejarah? Pertandingan nanti akan menjawab apakah kekuatan mitos masih relevan di era sepak bola kontemporer.



