Tuchel Bela Diri usai Inggris Tersingkir: Saya yang Bertanggung Jawab
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mengambil alih tanggung jawab penuh atas kekalahan semifinal Piala Dunia dari Argentina, meski ia mengaku tidak menyesali keputusan taktisnya.
- Tuchel menyebut timnya menjadi terlalu pasif di 35 menit akhir pertandingan, yang dimanfaatkan Argentina untuk membalikkan skor menjadi 2-1.
- Ia menegaskan Inggris masih memiliki jarak dengan tim elit seperti Argentina, Spanyol, dan Prancis, dan berjanji akan terus mengejar ketertinggalan tersebut.

Pelatih kepala Timnas Inggris, Thomas Tuchel, dengan tegas membela keputusan taktisnya saat timnya tumbang 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Dalam konferensi pers yang menegangkan di Miami, jelang laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis, pelatih asal Jerman itu menyatakan siap menjadi kambing hitam atas kekalahan tersebut. โJika kalian butuh seseorang untuk disalahkan, saya yang bertanggung jawab,โ ujarnya.
Inggris sebenarnya hanya berjarak beberapa menit dari partai puncak Piala Dunia pertama dalam 60 tahun terakhir. Mereka unggul 1-0 hingga menit ke-85, sebelum Argentina mencetak gol balasan melalui serangan bertubi-tubi yang dipimpin Lionel Messi. Gol kemenangan Argentina datang pada menit ke-92, memupus mimpi Inggris dan meninggalkan luka mendalam bagi skuad The Three Lions.
Tuchel mengakui timnya terlalu pasif di 35 menit terakhir. โKami tidak cukup aktif. Argentina menemukan ritme permainan mereka dan kami tidak mampu menghentikan umpan silang maupun pergerakan pemain mereka di kotak penalti,โ jelasnya. Ia menambahkan bahwa perubahan formasi menjadi lima bek belakang diambil untuk menambah lebar pertahanan, namun justru membuat tim semakin tertekan.
Kapten Harry Kane yang bermain sebagai striker justru sering turun ke lini tengah pada fase tersebut. Tuchel menjelaskan, โItu yang terjadi jika Anda bertahan dalam blok. Kami tidak cukup aktif.โ Ia menolak menyesali keputusan yang diambilnya. โSaya mengandalkan insting, intuisi, dan pengalaman. Kami tidak mendapatkan hasil, tapi saya tidak akan menyesal karena saya sudah berusaha membantu tim.โ
Kritik tajam dari suporter, analis, dan media menyoroti kegagalan Inggris mempertahankan keunggulan. Namun Tuchel menegaskan semangat tim tidak boleh diragukan. Ia justru menyoroti faktor kelelahan setelah laga berat melawan Meksiko (bermain dengan 10 orang di ketinggian Stadion Azteca) dan Norwegia (dalam cuaca panas di Miami). โPara pemain memberikan segalanya secara fisik. Jika data menunjukkan penurunan, pasti ada alasannya,โ ujarnya.
Menurut Tuchel, kekalahan ini menjadi โluka yang kami bawa sekarangโ. Namun ia optimistis timnya bisa bangkit. โJika kami menang besok, itu akan menjadi hasil terbaik Inggris di Piala Dunia dalam 60 tahun. Itu perspektif yang patut diperjuangkan.โ
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kegagalan Inggris menjadi pengingat bahwa dominasi Argentina, Prancis, dan Spanyol masih sulit ditandingi. Tuchel sendiri mengakui adanya kesenjangan. โTiga negara lain hampir memiliki ekspektasi untuk menang, kami belum sampai di sana. Tapi kami tidak akan berhenti mengejar,โ pungkasnya.
Pertanyaan besarnya: mampukah Tuchel membawa Inggris melampaui batas tersebut, atau akankah kegagalan ini menjadi noda permanen dalam kariernya? Laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis akan menjadi ujian pertama bagi karakter tim asuhannya.



