Di Balik Lapangan: Marion Bartoli Bongkar Sisi Lain Didier Deschamps Jelang Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Marion Bartoli, mantan juara Wimbledon, mengungkap persahabatan eratnya dengan pelatih timnas Prancis Didier Deschamps yang telah berlangsung 13 tahun.
- Deschamps harus menghadapi duka kehilangan ibunda di tengah turnamen, namun tetap fokus membawa Prancis ke final Piala Dunia 2026.
- Bartoli menilai Deschamps kurang mendapat apresiasi publik Prancis meski prestasinya gemilang, dan ia memprediksi sang pelatih akan melanjutkan karier di klub setelah turnamen ini.

Menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026 melawan Spanyol, pelatih timnas Prancis Didier Deschamps tidak hanya disibukkan dengan taktik di atas kertas. Di balik sosoknya yang tenang dan penuh perhitungan, ada sisi manusiawi yang jarang tersorot—seperti yang diungkapkan oleh sahabatnya, mantan petenis nomor satu dunia Marion Bartoli.
Bartoli, yang memenangi Wimbledon pada 2013, pertama kali bertemu Deschamps dalam sebuah acara penghargaan yang digelar harian L'Equipe. Saat itu Deschamps baru setahun menjabat sebagai pelatih Les Bleus. Kini, 13 tahun berselang, keduanya masih menjalin persahabatan yang erat. "Dia sering datang ke Dubai, tempat saya tinggal. Dia suka tenis, tapi sekarang lebih sering main padel—dan saya suka menggodanya soal itu," ujar Bartoli dalam wawancara dengan BBC Sport.
Menurut Bartoli, Deschamps adalah pribadi yang humoris dan selalu meluangkan waktu untuk membalas pesan. "Dia tahu betul anak perempuan saya, dan suami saya sering main padel bersamanya. Saya menganggapnya sahabat sejati," tambah perempuan 41 tahun itu. Menariknya, lawan tanding padel Deschamps bukanlah orang sembarangan: Zinedine Zidane, rekan setimnya saat juara dunia 1998 dan calon penggantinya sebagai pelatih Prancis, serta legenda Spanyol Andres Iniesta kerap menjadi lawan.
Di tengah turnamen, Deschamps harus menghadapi cobaan berat: kehilangan ibunda tercinta, Ginette, yang meninggal pada 23 Juni lalu. Ia sempat meninggalkan kamp pelatihan di Amerika Serikat untuk pulang ke Prancis dan menghadiri pemakaman, sehingga absen saat timnya menang 4-1 atas Norwegia. "Saya mengiriminya pesan. Dia membalas dalam satu jam, berterima kasih dan mengatakan bahwa meski berduka, semangat tim membuatnya tetap positif," kisah Bartoli. "Mungkin setelah Piala Dunia selesai, dia akan lebih merasakan kesedihannya. Tapi sekarang dia sangat termotivasi, seperti biasa. Saya tahu dia adalah pesaing tangguh."
Bartoli juga menyoroti bahwa Deschamps kerap kurang dihargai oleh publik Prancis, meski prestasinya luar biasa. "Di Prancis, ada 67 juta pelatih yang ingin timnas menang. Pekerjaan itu tidak mudah, tapi dia menjalaninya dengan brilian. Kami terlalu dimanjakan dengan pemain hebat seperti Thierry Henry, Zidane, Eric Cantona—sehingga setiap turnamen harus juara. Menurut saya, dia tidak mendapat pujian yang layak atas hasil luar biasanya," tegas Bartoli.
Jika Prancis mampu melewati Spanyol di semifinal, Deschamps akan menghadapi Argentina atau Inggris di partai puncak. Bartoli yakin Deschamps sangat menginginkan gelar juara dunia sebagai penutup kariernya bersama timnas. "Yang dia pedulikan adalah membawa generasi ini menjadi juara dunia. Mereka sudah menang 2018, final 2022, dan dia ingin keluar dengan catatan manis. Spanyol lawan berat, kami kalah dari mereka di Euro, jadi dia pasti ingin balas dendam," ujarnya.
Terlepas dari hasil akhir, Bartoli memprediksi Deschamps tidak akan lama meninggalkan sepak bola. "Saya yakin dia akan memulai petualangan baru. Mungkin dia akan istirahat setahun, tapi dia terlalu cinta sepak bola untuk benar-benar pergi. Dia ingin keluar sebagai pemenang, dan itu yang terbaik. Dia adalah pemenang sejati," pungkas Bartoli.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Deschamps mampu mengulang sukses 2018 dan memberikan kejutan terakhir sebelum menyerahkan kursi pelatih kepada Zidane? Semifinal melawan Spanyol akan menjadi ujian pertama.



