Tiket Laga Perebutan Peringkat Ketiga Piala Dunia Inggris vs Prancis Masih Tersisa Ribuan
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 7.000 tiket laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia antara Inggris dan Prancis di Miami masih tersedia di kanal resmi FIFA.
- Harga tiket kategori satu di platform resale anjlok hingga 40% dari harga asli, menandakan rendahnya minat penonton.
- Fenomena tiket tidak ludes ini menjadi sinyal bagi penyelenggara turnamen besar soal strategi penetapan harga dan distribusi tiket.

Laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia antara Inggris dan Prancis yang akan berlangsung di Miami Stadium pada Sabtu (22.00 BST) ternyata belum sepenuhnya menarik minat penonton. Hingga Jumat pagi, FIFA masih mencatat sekitar 7.000 tiket tersedia di platform penjualan resmi mereka.
Dari jumlah tersebut, 1.246 tiket dijual langsung dengan harga $865 (sekitar Rp13,4 juta) dan $1.125 (Rp17,4 juta) per lembar. Sementara itu, 5.864 tiket lainnya ditawarkan melalui platform resale resmi FIFA dengan harga termurah $455 (Rp7 juta) ditambah biaya layanan 15 persen. Menariknya, banyak tiket kategori premium justru dijual dengan diskon besar. Tiket kategori satu yang semula dibanderol $1.125 kini bisa didapatkan seharga $659 (Rp10,2 juta), atau turun nyaris 40 persen.
Fenomena serupa juga terjadi pada partai final yang mempertemukan dua tim lain pada Minggu. Meski pertandingan puncak biasanya selalu ludes, kali ini masih tersisa 32 tiket termahal yang dijual langsung dengan harga antara $29.995 hingga $32.970 (Rp466โ512 juta). Di platform resale, lebih dari seribu tiket final masih tersedia, beberapa di antaranya mendekati harga asli. Bahkan, satu tiket resale tercatat dengan harga fantastis $2 juta (Rp31 miliar), ditambah biaya layanan FIFA sebesar $300.000 (Rp4,6 miliar). Namun perlu dicatat bahwa harga di platform resale ditentukan oleh penjual dan belum tentu mencerminkan transaksi riil.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kabar ini bisa menjadi pelajaran berharga. Meski turnamen bergengsi seperti Piala Dunia selalu identik dengan tiket habis terjual, kenyataan menunjukkan bahwa faktor harga dan daya beli lokal tetap menjadi penentu. Di Indonesia, antusiasme tinggi terhadap sepak bola seringkali tidak diimbangi dengan akses tiket yang terjangkau. Kasus ini mengingatkan bahwa penyelenggara turnamen global perlu mempertimbangkan strategi harga yang lebih inklusif agar stadion benar-benar penuh, bukan hanya menjadi ajang spekulasi tiket.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah FIFA akan mengevaluasi kebijakan penetapan harga dan sistem resale-nya. Dengan banyaknya tiket yang tidak laku, terutama untuk laga perebutan tempat ketiga yang kerap dianggap kurang bergengsi, penyelenggara mungkin perlu memikirkan ulang skema bundling tiket atau penurunan harga di menit-menit akhir. Bagi tim seperti Inggris yang tengah bersiap menghadapi Euro 2028, minimnya dukungan langsung di stadion bisa menjadi faktor psikologis tersendiri.



