VAR di Piala Dunia 2026: Kontroversi Batas Waktu Tinjauan Kembali Memicu Perdebatan
Baca dalam 60 detik
- Dua keputusan kontroversial VAR di Piala Dunia 2026 memicu diskusi tentang sejauh mana wasit boleh meninjau ulang insiden dalam satu rangkaian permainan.
- Gol Mesir dibatalkan setelah pelanggaran 17 detik sebelumnya, sementara gol Norwegia dianulir karena dorongan sebelum bola dimainkan, menunjukkan inkonsistensi interpretasi.
- Para peneliti mengusulkan tiga perubahan: penetapan awal insiden oleh wasit, verifikasi tayangan ulang terhadap keputusan awal, dan interpretasi manusia terhadap konteks permainan.

Dua keputusan kontroversial di Piala Dunia 2026 kembali memanaskan perdebatan tentang batas waktu dan jarak yang sah bagi video assistant referee (VAR) dalam meninjau ulang sebuah insiden. Pertanyaan mendasar yang muncul: sejauh mana wasit boleh menarik garis waktu untuk menganggap suatu pelanggaran masih terhubung dengan gol yang tercipta?
Dalam laga babak 16 besar antara Argentina dan Mesir, VAR membatalkan gol Mesir yang dicetak Mostafa Ziko pada menit ke-58 setelah meninjau insiden 17 detik sebelumnya. Saat itu, Marwan Attia menginjak kaki Lisandro Martรญnez lebih dari 80 meter dari lokasi gol. Wasit menganulir gol tersebut, dan Argentina akhirnya menang 3-2. Keputusan ini memicu perbedaan pendapat di kalangan mantan wasit: Chris Foy menilai rangkaian serangan masih berlanjut karena bola terus bergerak maju, sementara Mark Clattenburg berpendapat jarak dan waktu yang telah berlalu sudah cukup untuk memutus hubungan antara pelanggaran dan gol.
Kasus kedua terjadi di perempat final antara Norwegia dan Inggris. Gol Torbjรธrn Heggem dari tendangan sudut dianulir setelah VAR mendeteksi Erling Haaland mendorong Elliot Anderson sebelum bola dimainkan. Meskipun pelanggaran terjadi saat bola belum hidup, wasit menilai dorongan itu memiliki hubungan kausal langsung dengan gol. Norwegia akhirnya kalah 2-1 setelah perpanjangan waktu. Namun, banyak pihak mempertanyakan mengapa tinjauan tidak mencakup duel fisik Anderson terhadap Haaland sebelumnya, yang bisa mengubah persepsi tentang provokasi.
Inti permasalahan VAR, menurut para peneliti etika AI dalam sepak bola, terletak pada definisi 'insiden' itu sendiri. Seberapa jauh rentang waktu dan area lapangan yang masih dianggap satu fase serangan? FIFA menyatakan tidak ada batasan waktu atau jarak yang baku. Namun, tanpa pedoman yang jelas, keputusan wasit menjadi subjektif dan rentan inkonsistensi. Studi terhadap 88 wasit elite dari lima negara juga menemukan bahwa tayangan lambat (slow motion) cenderung menghasilkan hukuman yang lebih berat dibandingkan kecepatan normal, karena konteks gerakan menjadi hilang.
Bagi Indonesia, perdebatan ini relevan mengingat Liga 1 Indonesia juga telah mengadopsi VAR sejak musim 2024. Tanpa standar batas waktu yang jelas, potensi kontroversi serupa bisa terjadi di kompetisi domestik. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) perlu merumuskan pedoman operasional yang rinci, termasuk durasi maksimal peninjauan dan kriteria 'hubungan langsung' antara pelanggaran dan gol, agar keputusan wasit lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Para peneliti mengusulkan tiga langkah perbaikan: pertama, wasit di lapangan harus menetapkan secara eksplisit apa yang perlu ditinjau berdasarkan keputusan awalnya. Kedua, tayangan ulang diverifikasi terhadap keputusan awal tersebut. Ketiga, wasit manusia tetap menjadi penafsir akhir dengan mempertimbangkan aturan FIFA dan norma sepak bola yang berlaku. Selain itu, FIFA disarankan menerbitkan catatan publik pasca-pertandingan untuk setiap peninjauan penting, mencakup waktu, jarak, dan ambang intervensi. Teknologi harus mendukung, bukan menggantikan, penilaian manusia. Sebab, kejelasan tayangan ulang yang terisolasi belum tentu mencerminkan keadilan yang utuh.



