Trump Hadiri Final Piala Dunia, FIFA Hadirkan Cincin Juara ala Super Bowl
Baca dalam 60 detik
- FIFA akan memberikan cincin juara kepada pemenang final Piala Dunia, mengadopsi tradisi khas olahraga Amerika Serikat.
- Donald Trump dipastikan hadir di MetLife Stadium untuk menyerahkan trofi, meski sebelumnya tak pernah menonton langsung satu pun pertandingan.
- Keputusan kontroversial menangguhkan kartu merah Folarin Balogun setelah intervensi Trump memicu kritik tajam terhadap integritas turnamen.

FIFA mengumumkan akan memberikan cincin juara kepada pemenang final Piala Dunia antara Argentina dan Spanyol, Minggu (20/7) waktu setempat, sebuah tradisi yang lazim di olahraga Amerika Serikat seperti NFL. Kehadiran Presiden AS Donald Trump di MetLife Stadium untuk menyerahkan trofi menambah dimensi politik pada laga puncak turnamen yang digelar di tiga negara tersebut.
Cincin juara sebanyak 30 buah akan diberikan kepada para pemain tim pemenang, sementara 1.996 cincin replika dijual untuk penggemar. Setiap cincin dirancang dengan miniatur trofi Piala Dunia dan ukiran di bagian dalam. Langkah ini merupakan upaya FIFA mengadopsi budaya olahraga Amerika, di mana cincin juara menjadi simbol prestise tinggi, seperti yang dilakukan NFL untuk pemenang Super Bowl.
Trump, yang selama ini dikenal gemar menghadiri ajang olahraga besar seperti Super Bowl, US Open, dan NBA Finals, justru absen dari 102 pertandingan Piala Dunia sebelumnya, termasuk laga timnas AS yang tersingkir di babak 16 besar oleh Belgia. Meski ada peringatan cuaca terkait kualitas udara akibat kebakaran hutan di Kanada, panitia memastikan final tetap berlangsung sesuai jadwal.
Kontroversi terbesar justru datang dari hubungan erat antara Presiden Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino. Trump disebut menelepon Infantino untuk meminta peninjauan kartu merah yang diterima striker AS, Folarin Balogun. Keputusan FIFA yang kemudian menangguhkan larangan bermain Balogun dinilai banyak pihak sebagai intervensi politik yang mencederai sportivitas. Balogun akhirnya tampil di laga knockout melawan Belgia, meski AS kalah telak 1-4.
Yang menarik, tak ada satu pun kartu merah atau kuning lain yang ditangguhkan sepanjang turnamen, meskipun Prancis dan Inggris mengajukan banding serupa. Hal ini memicu pertanyaan tentang perlakuan khusus terhadap tuan rumah. Analis olahraga menilai langkah FIFA ini membuka celah bahaya bagi integritas kompetisi di masa depan.
Bagi publik Indonesia, tradisi cincin juara ini bisa menjadi inspirasi bagi kompetisi dalam negeri. Namun, yang lebih relevan adalah pelajaran tentang pentingnya menjaga independensi wasit dan badan sepak bola dari tekanan politik. Di tengah euforia Piala Dunia yang juga disiarkan langsung di BBC, isu ini mengingatkan bahwa sepak bola tidak pernah lepas dari dinamika kekuasaan.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah FIFA mempertahankan tradisi cincin ini di edisi mendatang? Dan yang lebih krusial, bagaimana FIFA menjamin bahwa keputusan di lapangan tidak lagi dipengaruhi oleh intervensi eksternal? Jawabannya akan menentukan arah kredibilitas organisasi sepak bola dunia.



