Tuchel Sindir Mentalitas Timnas Inggris: Beruntung Bisa ke Semifinal
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mengkritik performa Inggris yang dinilainya ceroboh dan beruntung setelah menang dramatis atas Norwegia di perempat final Piala Dunia.
- Jude Bellingham menjadi pahlawan dengan dua gol, tetapi Tuchel menegaskan timnya harus bermain lebih baik jika ingin juara.
- Para legenda Inggris seperti Shearer dan Rooney mendukung kritik Tuchel, menilai mentalitas tim menjadi kunci lolos ke semifinal.

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, melontarkan kritik pedas terhadap performa anak asuhnya meski berhasil melaju ke semifinal Piala Dunia setelah menang dramatis 3-2 atas Norwegia di Miami, Sabtu (15/7) waktu setempat. Dalam pernyataan yang mengejutkan banyak pihak, Tuchel menyebut timnya 'beruntung' dan 'ceroboh' sepanjang laga.
Inggris sempat tertinggal lebih dulu sebelum Jude Bellingham menyamakan kedudukan di menit ke-47. Skor imbang bertahan hingga waktu normal habis, dan Bellingham kembali menjadi pahlawan dengan gol keduanya di menit ke-93 babak perpanjangan waktu. Namun, Tuchel tidak terkesan dengan kemenangan tersebut. "Kami beruntung. Kami mempersulit diri sendiri dengan permainan yang ceroboh, banyak kesalahan teknis, tidak cepat, dan tidak repetitif," ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Kritik Tuchel mendapat dukungan dari sejumlah mantan pemain Inggris. Legenda Alan Shearer menilai sikap kritis pelatih asal Jerman itu justru menunjukkan standar tinggi yang ia terapkan. "Dulu mungkin ada yang bilang 'kami kompak dan hebat', tapi Tuchel tidak mau seperti itu. Dia benar," kata Shearer kepada BBC Sport. Wayne Rooney juga memuji pernyataan Tuchel sebagai 'tepat sasaran' soal mentalitas, meski ia mengakui karakter pemain menjadi faktor penentu kemenangan.
Bellingham, yang kini mencetak enam gol dalam lima laga Piala Dunia, menanggapi dingin kritik pelatihnya. "Ya, terserah. Di lapangan itu sulit, kondisi panas dan lembap, melawan pemain seperti Haaland dan Odegaard. Tidak setiap pertandingan bisa main cantik, kadang harus menang kotor," ujar pemain Real Madrid tersebut. Ia juga menyindir Tuchel yang mungkin tidak merasakan langsung kerasnya pertandingan di cuaca ekstrem.
Perjalanan Inggris di Piala Dunia ini memang tidak mulus. Setelah menang 4-2 atas Kroasia di laga perdana, mereka ditahan Ghana, menang tipis 2-0 atas Panama, tertinggal lebih dulu sebelum mengalahkan DR Kongo, dan bermain dengan 10 orang saat menekuk Meksiko 3-2. Tuchel mengakui bahwa ia 'mencintai' timnya, tapi menuntut peningkatan signifikan. "Dengan hati saya sepenuhnya cinta pada pemain, tapi kami bisa bermain lebih baik. Banyak hal yang harus diperbaiki," tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kritik Tuchel mengingatkan pada pentingnya mentalitas dan evaluasi jujur di level tertinggi. Timnas Inggris, yang selama ini dikenal sering gagal di momen krusial, justru menunjukkan ketangguhan mental dengan bangkit dari ketertinggalan. Namun, jika hanya mengandalkan 'keberuntungan' dan individual brilliance, peluang mereka untuk mengangkat trofi kedua kalinya sejak 1966 mungkin tipis.
Inggris akan menghadapi semifinal di Atlanta pekan depan. Mantan bek Matt Upson memperkirakan Tuchel akan mengubah pendekatan, terutama jika kondisi cuaca lebih bersahabat. "Saya yakin Inggris akan memulai semifinal dengan tempo dan pola pikir berbeda," ujarnya. Pertanyaan besarnya: apakah Tuchel mampu memperbaiki permainan timnya dalam waktu singkat, atau mentalitas juara saja sudah cukup?



