Perpisahan Pahit Deschamps: Sang Legenda Harus Puas dengan Laga Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Didier Deschamps akan mengakhiri 14 tahun masa baktinya sebagai pelatih Prancis setelah gagal membawa tim ke final Piala Dunia 2026.
- Kekalahan 0-2 dari Spanyol di semifinal menjadi penampilan terburuk Les Bleus sepanjang turnamen dengan hanya 10 tembakan dan xG 0,3.
- Zinedine Zidane dikabarkan telah sepakat secara lisan untuk menggantikan Deschamps, namun tantangan besar menanti penerusnya.

Mimpi Didier Deschamps untuk mengakhiri karier kepelatihannya dengan trofi Piala Dunia ketiga harus sirna. Prancis dipastikan hanya akan bermain dalam laga perebutan tempat ketiga setelah takluk 0-2 dari Spanyol di semifinal, Selasa (15/7) waktu setempat. Kekalahan ini sekaligus menandai akhir perjalanan sang arsitek yang telah membangun kembali kejayaan Les Bleus selama 14 tahun.
Penampilan Prancis di Dallas menjadi yang terburuk sepanjang partisipasi mereka di Piala Dunia. Hanya melepaskan sepuluh tembakan dengan nilai expected goals (xG) 0,3, tim yang sebelumnya dijagokan justru tampil tanpa daya. Mantan gelandang Prancis Patrick Vieira menilai timnya gagal total. "Mereka tidak tampil. Semua pemain bintang kami hilang. Secara kolektif, kami sangat buruk," ujarnya kepada ITV.
Kekalahan ini membuat Deschamps harus puas dengan laga hiburan pada Sabtu nanti melawan tim yang kalah antara Inggris dan Argentina. Padahal, pelatih berusia 57 tahun itu telah mengonfirmasi pengunduran dirinya pada Januari 2025 lalu. Ia pun memecahkan rekor jumlah laga sebagai pelatih di Piala Dunia (26 pertandingan), mengalahkan catatan Helmut Schon (25).
Warisan Deschamps bagi sepak bola Prancis tak terbantahkan. Sejak mengambil alih kursi pelatih pada 2012, ia berhasil membangkitkan tim yang sempat terpuruk akibat kegagalan di Piala Dunia 2010 dan Euro 2008. Di bawah kepemimpinannya, Prancis selalu mencapai perempat final dalam empat turnamen besar beruntun—sebuah prestasi yang hanya ditandingi tiga tim lain. Mantan bek Gael Clichy memuji transformasi ini: "Ia mengambil tim yang di bawah standar dan membawanya kembali ke puncak. Warisannya fenomenal."
Namun, kegagalan di semifinal ini menyisakan tanda tanya besar. Dengan materi pemain seperti Kylian Mbappé (top skor bersama turnamen), Ousmane Dembélé (peraih Ballon d'Or), dan Michael Olise, publik tentu berharap lebih. Mantan striker Olivier Giroud mengakui ada motivasi ekstra untuk memberikan akhir yang manis bagi Deschamps, tetapi hasil akhir tidak sesuai harapan. "Ia pantas keluar lewat pintu besar, tetapi tidak berhasil. Meski begitu, ia tetap hebat," kata Giroud.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Deschamps mengingatkan pada pentingnya regenerasi pelatih dan konsistensi jangka panjang. Di tengah maraknya pergantian pelatih di klub-klub Tanah Air, dedikasi Deschamps selama 14 tahun menjadi contoh langka. Pertanyaan selanjutnya: akankah Zinedine Zidane mampu meneruskan warisan tersebut? ESPN melaporkan adanya kesepakatan lisan dengan Zidane, namun Clichy memperingatkan, "Orang yang datang setelah Deschamps akan kesulitan. Tidak akan mudah."



