Messi Bukan Lagi Dewa: Rahasia Argentina di Balik Kebangkitan Sang Legenda
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Scaloni membangun tim yang sepenuhnya mendukung Messi, bukan sekadar mengandalkan individunya.
- Ikatan personal seperti ritual minum mate dan permainan truco menjadi fondasi solidaritas skuad Argentina.
- Argentina kini menjadi kandidat kuat juara Piala Dunia berkat harmoni antara bakat dan kebersamaan.

Lionel Messi menangis lagi. Bukan karena tekanan atau cedera, melainkan karena ia akhirnya menemukan rumah sepak bola yang selama ini ia cari: sebuah tim yang tidak hanya memujanya, tetapi juga melindunginya. Di Piala Dunia kali ini, Argentina tampil bukan sebagai kumpulan bintang, melainkan sebagai keluarga yang haus akan gelar.
Pelatih Lionel Scaloni, yang dulu dianggap sebagai pelatih sementara, kini menjelma menjadi arsitek kebangkitan Argentina. Ia tidak hanya mengatur taktik 4-3-3, tetapi juga menciptakan budaya tim yang hangat dan inklusif. "Saya melatih untuk momen-momen kebersamaan, bukan karena skema," ujar Scaloni. Ritual minum mate dan bermain truco menjadi perekat yang menyatukan pemain dari berbagai latar belakang.
Salah satu kunci sukses Argentina adalah hubungan istimewa antara Messi dan Rodrigo de Paul. De Paul, yang awalnya hanya penggemar yang meminta foto, kini menjadi sahabat karib Messi. Setiap pagi, mereka minum mate bersama di kamar De Paul, dengan aturan ketat: Messi selalu yang pertama. De Paul bahkan memanggil Messi "El Pequeรฑo" (si kecil), sebuah panggilan yang menunjukkan kedekatan tanpa sekat. "Dia ingin diperlakukan sebagai Leo, bukan Messi," kata De Paul.
Scaloni juga cerdas dalam mengelola peran Messi di lapangan. Melawan Mesir, Messi diminta bermain di sayap kanan; saat melawan Swiss, ia bergerak ke tengah setelah 38 menit. Tim pun menyesuaikan diri. "Kami tidak menyuruhnya, tetapi tim harus merespons keputusannya," kata Scaloni. Fleksibilitas ini membuat Messi tidak terbebani, dan ia bisa membaca celah pertahanan lawan dengan lebih leluasa.
Di balik kesuksesan ini, ada narasi historis yang mengikat Argentina: warisan Diego Maradona. Bagi rakyat Argentina, Messi bukan sekadar pemain, melainkan simbol kebanggaan nasional. Lagu "La Cuarta Estrella" yang dinyanyikan skuad setelah setiap kemenangan adalah bukti nyata. Liriknya menyebut "membalaskan piala yang dicuri dari nomor 10" (merujuk pada kekalahan Argentina di final 1990). Ini bukan sekadar sepak bola; ini adalah misi pembalasan sejarah.
Bagi Indonesia, kisah Argentina ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya membangun ekosistem tim yang solid. Di tengah sorotan terhadap individualitas pemain bintang, Argentina membuktikan bahwa harmoni dan dukungan kolektif bisa melahirkan performa terbaik. Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, bisa mengambil inspirasi dari pendekatan Scaloni yang mengutamakan kebersamaan tanpa mengorbankan kualitas individu.
Messi kini berusia 39 tahun, dan ini mungkin Piala Dunia terakhirnya. Namun, dengan dukungan penuh dari rekan setim dan pelatih, ia masih memiliki peluang besar untuk mengangkat trofi keempat. Pertanyaannya: mampukah Argentina mempertahankan harmoni ini saat tekanan semakin besar? Atau justru kebersamaan inilah yang akan membawa mereka menjadi juara?



