Messi di Usia 39: Scaloni Sebut Sang Kapten Tetap 'Mesin' Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Argentina Lionel Scaloni menegaskan performa Lionel Messi di Piala Dunia 2026 tidak mengejutkan, meski usianya sudah 39 tahun.
- Messi mencetak delapan gol sejajar dengan Kylian Mbappe dan membawa Argentina comeback dramatis melawan Mesir di babak 16 besar.
- Argentina akan menghadapi Swiss di perempat final, tim yang lolos ke delapan besar untuk pertama kalinya dalam 72 tahun.

Lionel Messi kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Di usianya yang ke-39, megabintang Argentina itu masih menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026, dengan torehan delapan gol yang menyamai catatan Kylian Mbappe. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menegaskan bahwa performa sang kapten bukanlah kejutan, melainkan buah dari dedikasi dan persiapan fisik yang matang.
Messi, yang kini membela Inter Miami, tiba di turnamen dengan bayang-bayang cedera otot yang baru saja pulih. Namun, keraguan itu langsung sirna saat ia menjadi motor kebangkitan Argentina di babak 16 besar melawan Mesir. Tertinggal 0-2 hingga 11 menit sebelum waktu normal berakhir, Messi mencetak satu gol dan memberikan assist untuk Cristian Romero, membawa timnya menang dramatis 3-2. Scaloni menilai, intensitas permainan Messi tidak pernah berubah. "Leo berlari kurang lebih sama di setiap pertandingan. Secara fisik, ia memang melakukan persiapan dengan pelatih kebugarannya, dan itu membuahkan hasil. Tapi soal angka, saya tidak tahu apakah ia banyak berubah," ujar Scaloni dalam konferensi pers di Kansas City.
Scaloni menambahkan bahwa Messi adalah "mesin" ketika ia memberikan segalanya dan merasakan peluang untuk menciptakan bahaya. Pelatih berusia 47 tahun itu juga menepis anggapan bahwa usia akan memperlambat Messi. "Mungkin orang yang tidak mengenalnya mengira di usia 39 ia tidak akan berada di level ini. Tapi saya sudah berkali-kali mengatakan: selama ia mau, ia akan menjadi yang terbaik. Saya yakin itu, bukan karena saya pelatihnya," tegas Scaloni.
Pertandingan perempat final melawan Swiss pada Sabtu (12 Juli) di Kansas City diprediksi menjadi ujian berat bagi Argentina. Swiss, yang baru pertama kali mencapai babak delapan besar dalam 72 tahun terakhir, menunjukkan ketangguhan dengan menyingkirkan Kolombia lewat adu penalti setelah bermain imbang 0-0. Scaloni memberikan respek tinggi kepada lawannya. "Tidak ada lawan yang mudah. Swiss adalah tim yang sangat bagus. Mereka bersaing dengan tim nasional terbaik dan selalu tampil kompetitif. Mereka memiliki tradisi Piala Dunia, pemain berpengalaman, dan kuat secara fisik," kata Scaloni.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Messi di usia senja kariernya menjadi inspirasi dan tontonan kelas dunia. Pertandingan Argentina vs Swiss akan menjadi ajang pembuktian apakah Messi masih mampu membawa timnya melaju lebih jauh, sekaligus menunjukkan bahwa dedikasi dan kerja keras bisa mengalahkan batasan usia. Akankah Argentina kembali ke semifinal? Atau Swiss akan menulis sejarah baru? Semua akan terjawab di lapangan hijau Kansas City.



