Gagal Dapat Manzambi, Newcastle Ternyata Sudah Amankan Bakat Lebih Besar: Sean Steur
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United gagal mendatangkan gelandang Freiburg Johan Manzambi yang memilih bergabung dengan Aston Villa dengan nilai transfer ยฃ50 juta.
- Namun, The Magpies telah mengamankan tanda tangan gelandang muda Ajax Sean Steur, 18 tahun, dengan biaya mencapai ยฃ23 juta, yang dinilai memiliki potensi lebih besar.
- Steur, yang sudah tampil di Liga Champions dan Eredivisie, diyakini bisa menjadi solusi jangka panjang di lini tengah Newcastle yang tengah kehilangan sejumlah pemain kunci.

Kegagalan Newcastle United mendatangkan gelandang incaran Johan Manzambi dari Freiburg menjadi pukulan telak di bursa transfer musim panas ini. Namun di balik kekecewaan tersebut, terselip kabar positif: The Magpies ternyata telah lebih dulu mengamankan jasa gelandang muda Belanda, Sean Steur, yang disebut-sebut memiliki potensi lebih besar dari pemain Swiss berusia 20 tahun itu.
Manzambi, yang tampil gemilang bersama Swiss di Piala Dunia 2026, memilih bergabung dengan Aston Villa setelah Newcastle dikabarkan telah menyiapkan dana ยฃ50 juta untuknya. Keputusan ini menjadi pukulan beruntun bagi Eddie Howe yang harus merelakan Sandro Tonali hengkang ke Tottenham Hotspur senilai ยฃ100 juta, sementara Bruno Guimaraes juga dikabarkan ingin pindah ke Arsenal. Situasi ini membuat lini tengah Newcastle berada dalam kondisi kritis.
Namun, di tengah kekacauan tersebut, Newcastle sebenarnya telah bergerak cepat dengan merekrut Sean Steur dari Ajax Amsterdam pada awal bursa. Gelandang berusia 18 tahun ini ditebus dengan biaya yang bisa naik hingga ยฃ23 juta. Steur dinilai sebagai prospek jangka panjang yang lebih menjanjikan dibandingkan Manzambi, terutama dari segi usia dan pengalaman di level tertinggi.
Menurut pakar sepak bola Belanda, Michael Bell, Steur memiliki "potensi menjadi pemain kelas dunia". Kemampuan teknis, ketenangan, dan kematangan dalam menguasai bola disebut-sebut sangat khas Belanda. Dalam tiga penampilannya di Liga Champions musim lalu, ia tampil tanpa gentar melawan Qarabag dan Villarreal, menunjukkan bahwa ia tidak kaget bermain di panggung besar. Statistiknya pun impresif: 60% duel dimenangkan dan akurasi operan mencapai 91%.
Koresponden Newcastle, Luke Edwards, bahkan menilai bahwa Tonali "hanya tampil rata-rata musim lalu", sehingga kepergiannya mungkin bukan kerugian besar. Dengan Steur, Newcastle mendapatkan pemain yang lebih muda, lebih murah, dan berpotensi lebih besar. Jika ia mampu beradaptasi dengan intensitas fisik Premier League, ia bisa menjadi andalan di lini tengah dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada pentingnya strategi rekrutmen jangka panjang. Klub-klub Eropa kini semakin agresif merebut talenta muda sebelum mereka melejit, mirip dengan bagaimana klub-klub Asia Tenggara mulai berburu pemain belia dari Eropa. Newcastle, meski gagal di satu target, telah menunjukkan visi dengan mengamankan Steur yang mungkin akan menjadi bintang masa depan.
Ke depan, Newcastle masih perlu menambah pengalaman di lini tengah. Target seperti Lamine Camara dari Monaco atau Ederson dari Atalanta masih mungkin dikejar. Namun, dengan Steur yang sudah di tangan, masa depan lini tengah The Magpies setidaknya memiliki satu fondasi kokoh. Pertanyaannya, bisakah Steur segera menjadi pemain inti dan membawa Newcastle bersaing di papan atas?



