Hujan Lebat Ancam Pesta Sepak Bola Oslo: Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Cuaca buruk diperkirakan melanda Oslo saat Norwegia menjalani laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Inggris, mengancam rencana nobar massal yang telah menjadi tradisi.
- Peringatan 'kuning' dari Institut Meteorologi Norwegia memperingatkan potensi banjir bandang dan tanah longsor di wilayah padat penduduk akibat curah hujan tinggi.
- Meski hujan diprediksi reda sebelum kick-off, pihak penyelenggara dan penggemar harus bersiap menghadapi kondisi ekstrem demi menyaksikan laga bersejarah bagi Norwegia.

Oslo bersiap menghadapi ujian berat di luar lapangan: hujan deras disertai petir diprediksi mengguyur ibu kota Norwegia tepat saat jutaan pasang mata akan tertuju pada layar raksasa untuk menyaksikan laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Inggris, Sabtu malam nanti.
Antusiasme publik Norwegia terhadap turnamen ini tak terbendung. Setelah absen 28 tahun dari putaran final pria, tim asuhan Ståle Solbakken berhasil melaju hingga delapan besar, memicu euforia yang melampaui ekspektasi. Lima pertandingan sebelumnya telah menyaksikan puluhan ribu orang memadati jalanan dan alun-alun Oslo, berjingkrak mengikuti tradisi "mendayung" yang menjadi ciri khas selebrasi mereka. Namun, pesta rakyat itu kini terancam oleh peringatan cuaca yang dikeluarkan Jumat pagi oleh Institut Meteorologi Norwegia.
Peringatan level kuning—yang menandakan potensi bahaya—berlaku untuk wilayah tenggara Norwegia, termasuk Oslo. Badan meteorologi memprediksi curah hujan lokal bisa melebihi 20 mm per jam pada Sabtu sore hingga awal malam. "Ada risiko air badai di daerah padat penduduk, air merembes ke ruang bawah tanah, serta potensi banjir lokal, perubahan aliran sungai, tanah longsor, dan banjir bandang di titik-titik dengan hujan terberat," demikian bunyi pernyataan resmi institut tersebut.
Bagi Norwegia, pepatah "tidak ada cuaca buruk, hanya pakaian yang buruk" mungkin akan diuji habis-habisan. Namun, ada secercah harapan: hujan diperkirakan reda sekitar pukul 20.00 waktu setempat, tiga jam sebelum laga dimulai di Miami pada pukul 23.00. Artinya, para penggemar yang bertahan hingga larut malam kemungkinan besar bisa menyaksikan pertandingan tanpa basah-basahan. Meski demikian, kekhawatiran tetap mengemuka, terutama bagi penyelenggara acara nobar yang harus memastikan keselamatan penonton di tengah potensi banjir bandang.
Dari sudut pandang Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada antusiasme serupa saat Timnas Indonesia berlaga di Piala Asia atau kualifikasi Piala Dunia. Di Jakarta, misalnya, nobar di Gelora Bung Karno atau kawasan Sudirman kerap dihadiri puluhan ribu orang. Namun, perbedaan infrastruktur dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem menjadi catatan. Di Oslo, peringatan dini dan mitigasi bencana sudah terintegrasi dengan baik, meski tetap menimbulkan kepanikan. Di Indonesia, tantangan serupa bisa lebih kompleks mengingat sistem drainase dan respons darurat yang belum merata.
Pertandingan ini sendiri menjadi momen bersejarah bagi Norwegia. Terakhir kali mereka mencapai perempat final Piala Dunia pria adalah pada 1998, dan kala itu mereka tersingkir oleh Italia. Kini, dengan generasi emas yang diisi pemain seperti Erling Haaland dan Martin Ødegaard, harapan melambung tinggi. Namun, cuaca justru menjadi "lawan tak terduga" yang harus dihadapi para penggemar sebelum tim kesayangan mereka berlaga di lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah euforia publik Norwegia mampu bertahan menghadapi rintangan alam? Atau justru hujan deras akan meredam semangat yang telah membara selama sebulan terakhir? Satu hal yang pasti, laga melawan Inggris tidak hanya akan menentukan langkah Norwegia di turnamen, tetapi juga menguji ketangguhan budaya nobar mereka di tengah kondisi yang tidak bersahabat.



