Messi dan Argentina Bangkit dari Kubangan: Comeback Dramatis Hentikan Langkah Mesir
Baca dalam 60 detik
- Argentina membalikkan ketertinggalan 0-2 menjadi 3-2 dalam 14 menit akhir pertandingan, menyingkirkan Mesir dari Piala Dunia.
- Lionel Messi menjadi pemain pertama yang mencetak gol di enam pertandingan knockout beruntun, dengan kontribusi 16 gol dalam sembilan laga terakhir.
- Kemenangan ini mempertegas status Argentina sebagai ancaman serius, termasuk bagi Inggris yang berpotensi bertemu di semifinal.

Air mata Lionel Messi di Atlanta Stadium bukanlah isyarat kekalahan, melainkan pelepasan emosi setelah Argentina melakukan salah satu comeback terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Tertinggal 0-2 dari Mesir hingga menit ke-79, juara bertahan itu mencetak tiga gol dalam 14 menit untuk memastikan tiket perempat final.
Mesir unggul melalui gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Zico, sementara kiper Mostafa Shobeir tampil gemilang termasuk menahan penalti Messi pada babak pertama. Namun, Argentina yang pantang menyerah bangkit saat pertandingan memasuki masa kritis. Umpan silang Messi disundul Cristian Romero pada menit ke-79, lalu empat menit kemudian tembakan kaki kiri Messi menghujam gawang Shobeir. Enzo Fernandez memastikan kemenangan dengan sundulan di masa injury time.
Bagi Messi, pertandingan ini menambah catatan fenomenalnya. Ia kini menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam enam pertandingan knockout Piala Dunia beruntun, dengan total delapan gol di turnamen ini—terbanyak dalam lima laga awal sejak Gerd Muller (10 gol) pada 1970. Dalam sembilan pertandingan Piala Dunia terakhir, ia terlibat dalam 16 gol (13 gol, 3 assist).
Kemenangan ini juga berdampak pada peta persaingan. Inggris, yang sempat melihat peluang ke final lebih terbuka jika Mesir menang, kini harus mewaspadai bayang-bayang Argentina. Jalur Inggris menuju partai puncak diperkirakan akan melewati Norwegia di perempat final, lalu pemenang Swiss vs Kolombia. Namun, Argentina yang penuh determinasi menjadi momok tersendiri.
Mantan kiper Inggris Paul Robinson menyebut pertandingan ini spektakuler. “Argentina sudah terpuruk, mereka keluar dari turnamen pada satu titik. Tapi Messi mengambil alih. Assist indah, penyelesaian sempurna, dan pergantian pemain Scaloni bekerja,” ujarnya di BBC Radio 5 Live.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak pernah berakhir hingga peluit panjang. Argentina, dengan Messi yang berusia 39 tahun, membuktikan bahwa pengalaman dan mental juara bisa mengalahkan segalanya. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Inggris atau lawan lain menghentikan laju La Albiceleste?



