Chelsea Gagal Bajak Gelandang Sunderland: Sadiki Dinyatakan Tak Dijual
Baca dalam 60 detik
- Sunderland menegaskan Noah Sadiki tidak akan dijual musim panas ini, meski Chelsea mengajukan tawaran.
- Gelandang berusia 21 tahun itu menjadi target utama The Blues setelah Granit Xhaka memilih bertahan di Stadium of Light.
- Keputusan Sunderland mempertahankan Sadiki menunjukkan ambisi klub bersaing di Eropa tanpa melemahkan skuad.

Chelsea harus gigit jari setelah Sunderland secara resmi menolak melepas gelandang muda Noah Sadiki di bursa transfer musim panas ini. Klub asal London Barat itu sebelumnya menjadikan pemain berusia 21 tahun sebagai alternatif utama setelah Granit Xhaka memutuskan bertahan di Stadium of Light.
Xhaka, gelandang asal Swiss berusia 33 tahun, telah menyatakan komitmennya untuk tetap berseragam Sunderland meski diminati klub besutan Xabi Alonso. "Sunderland adalah rumah saya sejak hari pertama. Saya memutuskan bertahan; keluarga adalah yang terpenting. Saya siap menorehkan sejarah bersama mereka," ujarnya. Sikap ini memaksa Chelsea mengalihkan incaran ke pemain lain, termasuk Sadiki yang menjadi duet Xhaka di lini tengah Sunderland sepanjang musim 2025-26.
Sadiki, yang direkrut Sunderland dari Royale Union Saint-Gilloise, tampil impresif di musim perdananya di Premier League dengan 33 penampilan. Jurnalis Andy Sixsmith menyebut penampilannya "luar biasa". Namun, Sunderland tak tergoda dengan tawaran Chelsea yang disebut-sebut mencapai £52 juta—jauh di atas tawaran awal The Blues untuk Xhaka yang hanya £8 juta.
Keputusan Sunderland mempertahankan Sadiki tak lepas dari ambisi mereka bersaing di kancah Eropa setelah lolos kualifikasi musim lalu. Pelatih Regis Le Bris enggan melemahkan skuadnya di tengah padatnya jadwal. Bagi Chelsea, kegagalan ini menjadi pukulan telak, terutama jika Enzo Fernandez hengkang ke Arsenal yang dikabarkan telah membuka negosiasi.
Dari sisi performa, Xhaka masih lebih dominan dibanding Sadiki. Gelandang asal Swiss itu mencatat rata-rata 11,3 kontribusi defensif per 90 menit—tertinggi di Sunderland—sementara Sadiki hanya berada di peringkat keenam dengan 7,7. Dari segi serangan, Xhaka juga lebih produktif dengan satu gol dan enam assist, sedangkan Sadiki nihil gol dan hanya satu assist. Meski demikian, potensi jangka panjang Sadiki yang lebih muda membuatnya tetap menjadi aset berharga.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan pada fenomena klub-klub Eropa yang kerap memburu pemain muda berbakat dari liga menengah. Sunderland, yang sempat terdegradasi, kini menunjukkan daya tawar kuat berkat manajemen yang hati-hati. Chelsea, di sisi lain, harus mencari alternatif lain di tengah persaingan ketat bursa transfer.
Ke depan, Sunderland berpeluang mempertahankan duet Xhaka-Sadiki setidaknya hingga jendela transfer berikutnya. Namun, jika Sadiki terus menunjukkan performa impresif, godaan dari klub besar seperti Chelsea bisa kembali muncul. Akankah Sunderland bertahan dengan prinsipnya, atau akhirnya tergoda nilai transfer selangit?



