Prancis Buktikan Diri Bukan Sekadar Tim Cantik: Kemenangan Kotor atas Paraguay
Baca dalam 60 detik
- Prancis lolos ke perempat final Piala Dunia setelah mengalahkan Paraguay 1-0 lewat penalti Mbappe, meski mendapat tekanan fisik dan kepemimpinan wasit yang kontroversial.
- Kemenangan ini menunjukkan sisi pragmatis Les Bleus yang mampu bertahan dari provokasi lawan, berbeda dengan Jerman yang tersingkir oleh Paraguay di babak sebelumnya.
- Kartu kuning yang diterima tiga pemain kunci Prancis menjadi ancaman jelang laga melawan Maroko, dengan potensi absen di semifinal jika kembali terkena hukuman.

Prancis menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim yang mengandalkan permainan menyerang memukau. Dalam laga babak 16 besar Piala Dunia yang berlangsung di New York, Sabtu (5/7), Les Bleus membuktikan mampu bertarung dengan cara kotor saat menghadapi Paraguay yang agresif. Kemenangan 1-0 lewat penalti Kylian Mbappe pada menit ke-70 membawa mereka ke perempat final, sekaligus menegaskan kapasitas sebagai calon juara ketiga kalinya.
Sepanjang turnamen, Prancis memang memesona dengan sepak bola menyerbak seperti sampanye—cepat, kreatif, dan penuh gaya. Namun, melawan Paraguay, mereka harus berhadapan dengan lawan yang tidak segan menggunakan taktik keras dan provokasi. Wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, menjadi sorotan karena tidak memberikan satu pun kartu kuning kepada Paraguay meskipun tercatat puluhan pelanggaran. Situasi ini membuat Prancis harus bermain lebih hati-hati dan mengandalkan disiplin pertahanan.
Keberhasilan Prancis melewati jebakan Paraguay menjadi kontras dengan nasib Jerman yang tersingkir di babak yang sama oleh tim yang sama. Argentina pun harus bekerja keras melewati perpanjangan waktu untuk mengalahkan Cape Verde. Prancis justru mampu menyelesaikan laga dalam 90 menit, menunjukkan bahwa mereka memiliki ketangguhan mental dan fisik yang jarang terlihat dari tim dengan reputasi menyerang.
"Kualitas utama mereka adalah tahu cara berperang, tapi kami mengingatkan semua orang bahwa Prancis tidak hanya pandai bermain sepak bola," ujar gelandang pengganti Rayan Cherki. "Siapa pun yang ingin berperang dengan kami, inilah yang harus mereka harapkan." Cherki juga enggan mengomentari kepemimpinan wasit, hanya menegaskan bahwa yang terpenting adalah tiket perempat final sudah di tangan.
Mbappe, yang menjadi pahlawan dengan gol penaltinya, menunjukkan sikap percaya diri usai pertandingan. Ia berdiri di depan bek Paraguay Junior Alonso dengan tangan terangkat dan senyum mengejek. "Kami bisa melakukan segalanya. Pada akhirnya, kami berhasil mengalahkan mereka," katanya.
Kekhawatiran kini muncul dari akumulasi kartu kuning. Bradley Barcola, Manu Kone, dan Michael Olise masing-masing mendapat satu kartu kuning dan akan absen di semifinal jika kembali dihukum wasit saat melawan Maroko. Pelatih Didier Deschamps memiliki opsi seperti Desire Doue yang memenangi penalti, namun kehilangan Olise—yang musim ini mengoleksi 12 kartu kuning bersama Bayern Munich—bisa menjadi pukulan telak.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara estetika dan efektivitas. Timnas Indonesia yang kerap mengandalkan permainan menyerang bisa belajar dari Prancis bahwa dalam turnamen knock-out, kemampuan beradaptasi dengan tekanan fisik dan keputusan wasit yang tidak menguntungkan adalah kunci. Maroko, yang tampil solid sepanjang turnamen, akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketangguhan Les Bleus. Mampukah mereka mempertahankan konsistensi tanpa kehilangan identitas?



