Deschamps Peringatkan Timnas Prancis: Efisiensi Serangan Belum Cukup Hadapi Maroko
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Prancis Didier Deschamps menuntut peningkatan efektivitas penyelesaian akhir meski timnya menjadi yang paling produktif di Piala Dunia dengan 14 gol.
- Laga perempat final melawan Maroko merupakan ulangan semifinal 2022, namun Maroko kini bukan lagi tim kejutan melainkan penantang gelar yang percaya diri.
- Kondisi fisik Aurelien Tchouameni masih diragukan, sementara banding atas kartu kuning Michael Olise ditolak FIFA.

Didier Deschamps, pelatih timnas Prancis, menegaskan bahwa produktivitas gol yang tinggi belum menjamin kesuksesan. Menjelang laga perempat final Piala Dunia melawan Maroko, Kamis (9/7) waktu setempat, ia mendesak para pemainnya untuk meningkatkan efisiensi serangan. Meski Prancis memimpin daftar pencetak gol terbanyak turnamen dengan 14 gol, Deschamps menilai masih ada ruang perbaikan dalam memanfaatkan peluang.
"Kami efisien, tapi bisa lebih baik lagi. Kadang Anda punya enam peluang dan mencetak dua gol, kadang dua peluang dan dua gol. Yang terpenting adalah efektivitas," ujar Deschamps dalam konferensi pers di Foxborough, Massachusetts. Pernyataan ini muncul setelah Les Bleus hanya menang tipis 1-0 atas Paraguay di babak 16 besar melalui penalti Kylian Mbappe.
Laga ini merupakan ulangan semifinal Piala Dunia 2022, saat Prancis menghentikan langkah historis Maroko di Qatar. Namun, situasi kini berbeda. Maroko tidak lagi dipandang sebagai kuda hitam. Mereka melaju mulus dari fase grup, menyingkirkan Belanda dan tuan rumah Kanada, serta membuktikan diri sebagai kandidat kuat juara. "Profil Maroko bukan seperti Paraguay. Mereka bermain di final Piala Afrika. Mereka memiliki individu-individu top. Mereka datang untuk menang, bukan sekadar bermain," tegas Deschamps.
Prancis mengandalkan lini depan mematikan yang diisi Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Bradley Barcola. Namun, Deschamps mengingatkan bahwa Maroko memiliki pertahanan solid dan transisi cepat. Ia juga masih menunggu kepastian kebugaran gelandang Aurelien Tchouameni yang mengalami cedera otot. "Ia merasa lebih baik, tapi saya belum bisa memastikan. Mungkin ia akan berlatih hari ini. Pemain lain semua tersedia," kata Deschamps.
Di sisi lain, upaya Prancis untuk menggugat kartu kuning yang diterima Michael Olise saat melawan Paraguay kandas. FIFA menegaskan hukuman tersebut tetap berlaku. Keputusan ini muncul setelah kontroversi sebelumnya, di mana FIFA membatalkan larangan bermain pemain AS Folarin Balogun setelah intervensi Presiden Donald Trump. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi regulasi disiplin turnamen.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan evolusi sepak bola Afrika yang kini mampu bersaing dengan elit Eropa. Maroko, yang dihuni pemain-pemain keturunan diaspora, menjadi inspirasi bagi negara berkembang. Pertanyaan besarnya: mampukah Prancis mempertahankan dominasi, atau Maroko akan menulis ulang sejarah?



