Demam Piala Dunia di Houston: Jersey Kongo Laris, Gantungan Kunci Jadi Buruan
Baca dalam 60 detik
- Toko resmi Piala Dunia di Houston mencatat lonjakan penjualan jersey tim Afrika, terutama DR Kongo dan Maroko, yang tidak terduga.
- Pembeli lokal, bukan turis, menjadi motor utama pembelian, dengan satu transaksi mencapai lebih dari 5.000 dolar AS.
- Fenomena ini menunjukkan daya tarik pemain bintang seperti Messi dan Yamal mendorong permintaan jersey tim yang tidak didukung langsung oleh pembeli.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada telah menyulut gelombang demam sepak bola yang tak biasa di Houston. Di toko resmi turnamen, antrean panjang warga lokal yang memburu suvenir langka menjadi pemandangan sehari-hari, membuktikan bahwa even global ini berhasil menembus tembok kota yang sebelumnya bukan pusat gairah sepak bola.
Matthew Schafer, asisten toko di Houston, mengungkapkan kejutan terbesar adalah permintaan jersey DR Kongo yang melonjak tanpa diduga. "Penjualan jersey DR Kongo benar-benar muncul dari mana-mana," katanya. Selain itu, jersey Maroko dan Cape Verde juga laris manis saat tim-tim tersebut bertanding di kota itu. Schafer meyakini pembeli didominasi warga Houston yang terbawa euforia Piala Dunia, bukan wisatawan asing.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana Piala Dunia mampu mengubah perilaku konsumsi lokal. Seorang pembeli bahkan menghabiskan lebih dari 5.000 dolar AS untuk membeli hampir semua barang di toko, mulai dari jersey hingga aksesori. "Dia datang bersama asistennya, menunjuk barang dan bertanya berapa banyak yang tersedia, lalu membeli semuanya," kenang Schafer.
Pola menarik lainnya adalah pembelian jersey yang tidak selalu terkait dengan tim yang didukung. Aldo Lopez, warga Panama yang berkunjung ke Houston, membelikan anak-anaknya jersey Argentina. "Saya pikir Lionel Messi punya pengaruh besar. Anak-anak saya sangat menyukainya karena ia rendah hati, tidak sombong seperti pemain lain," ujarnya. Sementara itu, Xavier Sutton, 11 tahun, asal Florida, mencari jersey Spanyol karena mengidolakan Lamine Yamal yang baru dikenalnya di Piala Dunia ini.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan gambaran potensi pasar suvenir olahraga yang besar. Dengan antusiasme tinggi terhadap Piala Dunia, terutama saat tim nasional berlaga, permintaan merchandise bisa melonjak drastis. Pelajaran dari Houston adalah pentingnya menyediakan variasi produk yang mencakup tim-tim populer dan pemain bintang, bukan hanya tim tuan rumah. Selain itu, gantungan kunci dan aksesori kecil lainnya terbukti menjadi pilihan utama bagi penggemar yang ingin membawa pulang kenang-kenangan tanpa merogoh kocek dalam.
Zara Hashmi, yang akan menonton pertandingan Maroko vs Kanada, mengaku awalnya ragu karena harga tiket mahal, tetapi akhirnya memutuskan membeli karena desakan teman. "Mereka bilang ini kesempatan sekali seumur hidup, uang bisa kembali," katanya. Ia membeli jersey Tim AS dan kaos Houston karena stok jersey Maroko habis. Kisah ini menunjukkan bahwa faktor keterbatasan stok justru mendorong pembelian barang alternatif yang tetap bernilai kenangan.
Ke depan, tren ini bisa menjadi indikator bagi penyelenggara turnamen dan peritel untuk mengelola stok secara lebih cerdas. Apakah permintaan jersey tim Afrika akan bertahan setelah Piala Dunia berakhir? Ataukah gantungan kunci akan tetap menjadi primadona di even olahraga berikutnya? Yang jelas, Houston telah membuktikan bahwa sepak bola mampu menggerakkan ekonomi lokal dengan cara yang tak terduga.



