Jepang Pasang Ratusan Kamera Beruang di Pegunungan, Serangan Makin Marak
Baca dalam 60 detik
- Jepang memasang lebih dari 800 kamera di pegunungan Tohoku untuk memantau populasi beruang setelah serangan fatal meningkat tajam.
- Setidaknya lima orang tewas sejak April 2026, menyusul rekor 13 kematian akibat serangan beruang pada tahun fiskal sebelumnya.
- Penurunan jumlah penduduk di pedesaan diduga menjadi pemicu bertambahnya populasi beruang dan konflik dengan manusia.

Pemerintah Jepang mulai memasang ratusan kamera di pegunungan bagian utara sebagai bagian dari survei populasi beruang nasional, menyusul lonjakan serangan yang menewaskan sedikitnya lima orang sejak April lalu. Langkah ini diambil setelah tahun fiskal sebelumnya mencatat rekor 13 kematian akibat serangan beruang di seluruh negeri, menurut Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.
Wilayah Tohoku menjadi episentrum serangan, dengan media nasional setiap hari melaporkan kemunculan beruang di pusat perbelanjaan, taman, dan sekolah. Warga hidup dalam ketakutan, sementara para ilmuwan mengaitkan peningkatan populasi beruang dengan menurunnya jumlah penduduk di daerah pedesaan. Lahan pertanian yang ditinggalkan dan hutan yang kembali liar memberikan ruang bagi beruang untuk berkembang biak tanpa banyak gangguan manusia.
Untuk merancang respons yang efektif, otoritas berencana menggunakan lebih dari 800 kamera yang dipasang di enam populasi beruang utama di Tohoku, sebelum diperluas ke seluruh Jepang dalam empat tahun ke depan. Demikian diungkapkan Yu Takahashi, pejabat Kementerian Lingkungan Hidup, kepada AFP. Kamera-kamera itu akan dipancing dengan toples madu yang dicampur anggur, ditempatkan setinggi kepala manusia. Saat beruang berdiri dengan kaki belakang untuk mencium aroma manis tersebut, kamera akan menangkap tanda putih unik di dada setiap individu.
"Selama ini, pemerintah daerah melakukan survei populasi beruang di wilayahnya masing-masing pada waktu yang berbeda dan dengan metode yang berbeda," kata Takahashi. "Rencana kami adalah melakukan survei yang lebih akurat dengan berfokus pada kelompok populasi."
Selain survei, insiden tak terduga juga terjadi. Seorang pria berkewarganegaraan Vietnam, Huynh Nhat Duy (22), ditangkap karena secara tidak sengaja menyemprotkan semprotan anti-beruang di kantor pos Nagoya, menyebabkan lima orang dirawat di rumah sakit. Polisi menjeratnya dengan tuduhan menghalangi bisnis. Kejadian ini menunjukkan betapa meluasnya penggunaan semprotan beruang di Jepang, yang kini menjadi perlengkapan wajib bagi pendaki dan warga di daerah rawan.
Serangan beruang tidak hanya terjadi di pegunungan. Pada Juni lalu, puluhan polisi, pemburu, dan petugas kota menghabiskan empat hari untuk menjebak seekor beruang yang berkeliaran di Utsunomiya, utara Tokyo, hingga memaksa penutupan sekolah massal. Sebelumnya, seekor beruang yang digambarkan "sangat cerdas"โmampu membuka jendela dan menyalakan keranโmenyerang empat orang di dua pabrik di Fukushima dan kabur selama berhari-hari.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan konflik manusia-satwa liar. Meskipun beruang tidak menjadi ancaman utama di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi dengan harimau, gajah, atau orangutan yang terdesak ke pemukiman akibat alih fungsi lahan. Pendekatan Jepang yang menggunakan teknologi kamera dan survei populasi terpadu bisa menjadi referensi bagi otoritas konservasi di Indonesia untuk memitigasi konflik serupa.
Ke depannya, Jepang harus menghadapi pertanyaan mendasar: apakah penurunan populasi pedesaan yang terus berlanjut akan membuat konflik ini semakin parah? Ataukah teknologi dan kesadaran masyarakat mampu menciptakan keseimbangan baru antara manusia dan alam?



