Ular Laut Perut Kuning: Satu-satunya Reptil yang Hidup Sepenuhnya di Laut Lepas
Baca dalam 60 detik
- Hydrophis platurus, ular laut perut kuning, adalah satu-satunya reptil pelagis yang menghabiskan seluruh hidupnya di laut terbuka tanpa pernah ke darat.
- Spesies ini memiliki adaptasi unik seperti ekor pipih seperti dayung, katup hidung, dan paru-paru panjang, serta mampu berenang hingga 1 meter per detik.
- Penelitian terbaru mengungkap bahwa ular ini bergantung pada air tawar dari hujan untuk minum, bukan air laut, sehingga rentan terhadap perubahan iklim.

Di antara ribuan spesies ular di dunia, hanya satu yang benar-benar memutuskan hubungan dengan daratan: ular laut perut kuning (Hydrophis platurus). Reptil dari famili Elapidae—masih satu kelompok dengan kobra dan weling—ini menjalani seluruh siklus hidupnya di laut lepas, mulai dari lahir, berburu, kawin, hingga mati, tanpa pernah menyentuh pantai atau dasar laut. Sifat pelagis total ini menjadikannya satu-satunya anggota ordo Squamata yang hidup mengapung dan berenang di kolom air laut terbuka sepanjang hayatnya.
Menurut catatan Guinness World Records, ular laut perut kuning adalah ular perenang tercepat di dunia, dengan kecepatan hingga 1 meter per detik untuk jarak pendek. Kecepatan ini vital untuk menangkap ikan kecil di permukaan laut dan menghindari predator. Namun, keunggulan di air berbanding terbalik dengan kemampuannya di darat. Tubuhnya tidak lagi memiliki otot dan struktur yang memadai untuk bergerak di permukaan padat, sehingga jika terdampar di pantai, ular ini rentan terhadap dehidrasi dan serangan predator.
Secara anatomi, ular ini memiliki ekor pipih dan melebar menyerupai dayung yang memberikan dorongan kuat saat digerakkan dari sisi ke sisi. Uniknya, ular ini bisa berenang maju maupun mundur dengan efisiensi yang sama—kemampuan yang jarang ditemukan pada spesies ular lain. Selain itu, lubang hidungnya dilengkapi katup yang menutup rapat saat menyelam, dan paru-parunya memanjang hingga hampir sepanjang rongga tubuh, membantu mengatur daya apung sekaligus menyimpan udara untuk penyelaman lama.
Cara berburu ular laut perut kuning juga unik. Alih-alih mengejar mangsa secara aktif, ia lebih sering mengapung diam di permukaan laut, meniru bentuk ranting atau benda mati. Ikan-ikan kecil yang tertarik berkumpul di sekitarnya menjadi mangsa empuk yang ditangkap dengan gerakan menyamping atau berenang mundur mendekat sebelum menyambar. Perilaku ini banyak terjadi di sekitar garis arus atau slick, area permukaan laut tempat plankton dan ikan kecil terkonsentrasi oleh pertemuan arus.
Keunikan lain yang membedakan spesies ini dari ular laut lainnya adalah reproduksinya. Sebagian besar ular laut, seperti kelompok Laticauda, masih naik ke daratan untuk bertelur. Sebaliknya, ular laut perut kuning melahirkan anak secara langsung di dalam air, sehingga tidak memerlukan sarang di daratan kering. Hal ini memungkinkannya menjalani seluruh siklus hidup di laut terbuka tanpa intervensi daratan.
Tantangan terbesar ular ini justru terkait air minum. Selama ini, kelenjar garam di bawah lidahnya diyakini memungkinkannya meminum air laut. Namun, studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE pada 2019 oleh tim peneliti University of Florida membantah anggapan itu. Berdasarkan pengamatan di lepas pantai Guanacaste, Kosta Rika, ular ini menolak minum air laut meskipun dalam kondisi dehidrasi berat. Sebaliknya, mereka bergantung pada air tawar yang terbentuk sesaat di permukaan laut ketika hujan deras turun, saat kadar garam di lapisan atas air laut menurun cukup rendah untuk bisa diminum.
Ketergantungan pada air hujan musiman membuat spesies ini rentan terhadap perubahan iklim. Selama musim kemarau yang bisa berlangsung 6 hingga 7 bulan di lokasi penelitian, ular laut perut kuning kehilangan hingga seperempat dari berat tubuhnya akibat dehidrasi, sebelum akhirnya kembali terhidrasi begitu hujan pertama turun. Jika pola musim kemarau semakin panjang akibat perubahan iklim, kelangsungan hidup spesies ini di kawasan tropis seperti Indonesia—yang juga memiliki musim kemarau—bisa terancam. Bagi para peneliti dan konservasionis di Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada spesies darat, tetapi juga pada kehidupan laut yang tampaknya jauh dari jangkauan manusia.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah ular laut perut kuning mampu beradaptasi dengan perubahan pola hujan yang semakin tidak menentu, ataukah spesies ini akan mengalami penurunan populasi di wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan lebih panjang. Studi lebih lanjut mengenai distribusi dan perilaku minum spesies ini di perairan Indonesia menjadi penting untuk memahami dampak perubahan iklim secara lokal.



