Ular Buta Brahmin: Satu-Satunya Spesies Ular yang Semua Betina, Ini Rahasia Reproduksinya
Baca dalam 60 detik
- Indotyphlops braminus, ular buta Brahmin, adalah satu-satunya spesies ular yang seluruh populasinya betina dan bereproduksi tanpa jantan melalui partenogenesis obligat.
- Studi genom terbaru mengonfirmasi bahwa ular ini bersifat allotriploid dengan tiga set kromosom, hasil hibridisasi antarspesies yang memungkinkan reproduksi aseksual.
- Kemampuan bereproduksi sendiri membuat ular ini mudah menyebar ke berbagai benua, termasuk potensi masuk ke Indonesia melalui media tanam tanaman hias.

Di antara hampir 4.000 spesies ular yang dikenal di dunia, hanya satu yang seluruh populasinya terdiri dari betina: ular buta Brahmin (Indotyphlops braminus). Spesies mungil yang kerap disangka cacing tanah ini tidak membutuhkan pejantan untuk berkembang biak, menjadikannya keunikan biologis yang langka sekaligus kunci keberhasilannya menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Sebuah studi genom yang dipublikasikan di jurnal Scientific Data (Nature) menegaskan bahwa I. braminus bereproduksi secara eksklusif melalui partenogenesis obligat. Artinya, betina dewasa menghasilkan telur yang berkembang menjadi individu baru tanpa proses pembuahan. Setiap anak pada dasarnya adalah klon genetik dari induknya. Peneliti belum pernah menemukan satu pun individu jantan, baik di alam liar maupun di penangkaran.
Untuk memvalidasi temuan ini, tim peneliti menyusun draf genom pertama I. braminus, menjadikannya salah satu dari sedikit spesies dalam kelompok ular primitif Scolecophidia yang genomnya berhasil dipetakan secara lengkap. Analisis genetik mengungkap bahwa ular ini bersifat allotriploid, memiliki tiga set kromosom, yang kemungkinan muncul akibat hibridisasi antarspesies—pola serupa juga ditemukan pada beberapa kadal partenogenetik.
Kemampuan reproduksi aseksual ini menjadi faktor kunci penyebaran global ular buta Brahmin. Berasal dari Asia Selatan, spesies ini kini telah menyebar ke hampir semua benua kecuali Antartika, terutama melalui media tanam tanaman hias—sehingga dijuluki flowerpot snake. Satu individu saja yang terbawa ke habitat baru sudah cukup untuk membentuk populasi baru, sebuah keunggulan evolusioner yang tidak dimiliki spesies ular lain.
Bagi Indonesia, keberadaan ular buta Brahmin patut diwaspadai meski tidak berbahaya. Sebagai negara dengan lalu lintas tanaman hias yang tinggi, risiko introduksi spesies ini cukup besar. Meski tidak mengancam manusia, kemampuannya bereproduksi cepat dan menyebar dapat mengganggu ekosistem lokal jika tidak terkendali. Para ahli mengingatkan perlunya monitoring ketat terhadap media tanam impor untuk mencegah invasi biologis.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah mekanisme partenogenesis pada ular ini dapat memberikan wawasan baru bagi ilmu reproduksi dan bioteknologi? Studi lebih lanjut tentang genom I. braminus diharapkan membuka peluang pemahaman lebih dalam tentang evolusi reproduksi aseksual pada vertebrata.



