Gagal ke Dortmund, Bintang Muda Cologne Justru Makin Betah: Direktur Klub Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Transfer Saïd El Mala ke Borussia Dortmund batal, tetapi pihak Cologne menegaskan pemain tetap fokus dan bangga berseragam klub.
- Direktur olahraga Cologne, Thomas Kessler, mengungkap komunikasi intensif dengan pemain dan optimistis ia bertahan musim ini.
- Kegagalan transfer ini bisa menjadi sinyal bagi klub-klub Eropa lain untuk memantau perkembangan El Mala di musim 2026/27.

Kabar mengecewakan bagi Borussia Dortmund akhirnya terkonfirmasi: transfer gelandang muda berbakat Cologne, Saïd El Mala, gagal total. Namun, di balik batalnya kepindahan ke klub raksasa Bundesliga itu, muncul narasi berbeda dari kubu Cologne. Direktur olahraga mereka, Thomas Kessler, justru menegaskan bahwa El Mala tidak menunjukkan kekecewaan sedikit pun. Ia bahkan menyebut pemain berusia 19 tahun itu tetap bangga mengenakan seragam tim berjuluk The Billy Goats.
Kegagalan negosiasi ini sebenarnya sudah bisa ditebak. Beberapa hari sebelumnya, direktur olahraga Dortmund, Lars Ricken, mengonfirmasi bahwa kedua klub telah mengadakan pembicaraan serius. Namun, karena tidak ada kesepakatan yang dicapai, BVB memutuskan menghentikan pengejaran terhadap El Mala. Kessler mengungkapkan bahwa keputusan itu bukanlah kejutan bagi pihaknya. "Sudah jelas selama beberapa hari bahwa kami tidak akan mencapai kesepakatan," ujarnya. "Ini bukan hal yang tiba-tiba bagi kami. Ini hanyalah hasil dari diskusi yang sangat saling menghormati antara kedua klub. Itulah sepak bola—Anda tidak selalu bisa mencapai kesepakatan."
Bagi Kessler, yang lebih penting adalah bagaimana El Mala menyikapi situasi ini. Ia mengaku hampir setiap hari berkomunikasi dengan pemainnya tersebut. "Sangat bisa dimengerti jika pemain seusianya mempertimbangkan pindah ke klub Liga Champions," kata Kessler. "Saya tidak melihat kekecewaan dalam dirinya. Saya berhubungan dengan Saïd hampir setiap hari, dan kami berbicara sangat terbuka tentang situasi ini. Dan dari cara dia bersikap dan mengenakan seragam kami, dia jelas sangat bangga menjadi pemain Cologne."
Pernyataan Kessler ini memberikan sinyal kuat bahwa El Mala akan tetap berseragam Cologne setidaknya untuk musim 2026/27. Pertandingan kompetitif pertama Cologne musim ini adalah melawan Würzburger Kickers di babak pertama DFB Pokal pada 24 Agustus. Kessler pun yakin El Mala akan tampil dalam laga tersebut. "Saya hanya bisa mengulangi apa yang telah saya katakan selama berminggu-minggu: Saya yakin dia akan bermain untuk Cologne musim ini," tegasnya.
Meski demikian, Kessler sadar bahwa performa konsisten El Mala akan terus menarik minat klub-klub lain. "Pemain yang berkembang baik di sini tentu akan menarik minat klub lain. Ini pasti bukan terakhir kalinya kami duduk di meja negosiasi dengan Borussia Dortmund," ujarnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa meski transfer batal, hubungan antara kedua klub tetap terjaga dan peluang transfer di masa depan masih terbuka lebar.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah El Mala ini menarik untuk disimak. Ia adalah contoh nyata bagaimana seorang pemain muda menghadapi dinamika transfer yang rumit di Eropa. Ketenangan dan profesionalisme yang ditunjukkan El Mala bisa menjadi pelajaran berharga bagi pesepak bola muda Tanah Air yang bercita-cita berkarier di liga top Eropa. Selain itu, kegagalan transfer ini juga menunjukkan bahwa negosiasi antarklub tidak selalu berakhir dengan kesepakatan, dan hal tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis sepak bola modern.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah El Mala mampu mempertahankan performa dan membuktikan bahwa keputusan Cologne mempertahankannya adalah langkah yang tepat? Atau justru kegagalan transfer ini akan menjadi motivasi ekstra baginya untuk semakin bersinar dan menarik minat klub-klub besar lainnya? Musim 2026/27 akan menjadi panggung pembuktian bagi pemain muda ini, dan publik sepak bola Jerman, serta mungkin juga Indonesia, akan mengawasi dengan saksama.



