Utusan Trump Bertemu Mediator di Kairo, Israel Lanjutkan Serangan Udara di Gaza
Baca dalam 60 detik
- Utusan khusus Trump, Jared Kushner dan Nickolay Mladenov, menggelar pertemuan dengan mediator Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo, sementara Israel tetap melancarkan serangan udara di Gaza.
- Israel menolak tuntutan AS untuk menghentikan pembunuhan tertarget terhadap militan Hamas, dan Perdana Menteri Netanyahu menyebut peta jalan damai Trump 'tidak dapat diterima'.
- Lima negara Arab, Turki, Pakistan, dan Indonesia mengutuk penolakan Israel, menambah tekanan diplomatik menjelang pemilu Israel dan fase kedua rencana perdamaian.

Kairo, 16 Agustus 2025 โ Upaya diplomatik Amerika Serikat untuk mewujudkan perdamaian di Gaza kembali menemui jalan terjal. Di tengah gencarnya lobi yang dilakukan utusan khusus Presiden Donald Trump, jet-jet tempur Israel justru kembali menghujani wilayah kantong Palestina tersebut, menandakan bahwa kesenjangan antara keinginan Washington dan realitas di lapangan masih sangat lebar.
Jared Kushner, menantu sekaligus utusan Trump, bersama Nickolay Mladenov yang mewakili Dewan Perdamaian untuk Gaza, dilaporkan bertemu dengan mediator Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo pada Minggu (16/8). Sumber diplomatik menyebutkan bahwa perwakilan Hamas turut hadir dalam sebagian pertemuan tersebut. Agenda utamanya adalah mematangkan rencana damai yang diumumkan Trump, yang menyerukan penghentian segera operasi militer, pelucutan senjata Hamas, serta penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza.
Namun, di meja perundingan, masih menganga perbedaan prinsip. Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan bahwa Tel Aviv keberatan dengan tuntutan Washington untuk menghentikan pembunuhan tertarget terhadap militan Hamas. Israel menilai kelompok tersebut justru memanfaatkan gencatan senjata untuk membangun kembali kekuatannya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang pada 9 Agustus lalu menyebut peta jalan Trump sebagai sesuatu yang 'tidak dapat diterima', dijadwalkan bertemu langsung dengan Kushner dan Mladenov pada Senin (17/8).
Sementara itu, militer Israel mengumumkan telah menyerang dua militan dari kelompok Jihad Islam dan Hamas di Khan Younis dan Nuseirat pada hari yang sama. Serangan yang menghantam sebuah perkemahan tenda itu menewaskan satu warga Palestina dan melukai sedikitnya lima lainnya, menurut petugas medis setempat. Serangan terpisah di kamp Nuseirat juga melukai sejumlah warga. Sebelumnya, pemimpin Hamas, Khalil Al-Hayya, telah bertemu dengan kepala intelijen Mesir, Hassan Rashad, untuk membahas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Konteks Indonesia: Sikap tegas Indonesia yang ikut menandatangani pernyataan bersama tersebut menunjukkan konsistensi politik luar negeri yang pro-Palestina. Bagi Jakarta, isu ini bukan sekadar solidaritas, melainkan juga bagian dari kepentingan strategis untuk menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat posisi di forum internasional. Langkah ini juga sejalan dengan aspirasi Indonesia untuk menjadi jembatan perdamaian, meski harus diakui bahwa pengaruh langsungnya terhadap kebuntuan di Gaza masih terbatas.
Di sisi lain, partai Likud pimpinan Netanyahu justru menuduh negara-negara Arab berusaha menjatuhkan sang perdana menteri. Dalam unggahan di media sosial X, Likud yang tengah terpuruk dalam jajak pendapat menjelang pemilu 27 Oktober, menyebut bahwa negara-negara Arab ingin pemerintahan baru yang lebih mudah 'memberi mereka segalanya'. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dinamika politik domestik Israel turut memengaruhi sikapnya terhadap rencana damai.
Hamas, melalui juru bicaranya Hazem Qassem, mendesak para mediator dan Dewan Perdamaian untuk memaksa Israel memenuhi kewajiban fase pertama kesepakatan, menghentikan pelanggaran gencatan senjata, dan menyetujui peta jalan fase kedua. Gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu memang berhasil menghentikan pertempuran besar, tetapi tidak mampu menghentikan serangan sporadis yang terus menelan korban jiwa.
"Israel tampaknya ingin mempertahankan ruang gerak militernya sambil menunda komitmen politik yang lebih luas," demikian analisis para pengamat yang mengikuti perkembangan negosiasi.
Pertanyaannya kini, mampukah tekanan diplomatik yang semakin meluas, termasuk dari negara-negara Muslim, mengubah kalkulasi Israel? Atau justru pemilu yang akan menjadi penentu, di mana Netanyahu mungkin lebih memilih mengambil sikap keras untuk mengamankan basis pendukungnya? Yang jelas, setiap hari yang berlalu tanpa kesepakatan berarti semakin banyak korban berjatuhan di Gaza, dan semakin pudar harapan akan terciptanya perdamaian yang langgeng.



