Mario Lopez Bangga Lihat Putranya Mengikuti Jejak Karier di Hollywood: 'Momen yang Sangat Spesial'
Baca dalam 60 detik
- Aktor senior Mario Lopez mengungkapkan kebanggaannya melihat putranya, Dominic (12), mulai merintis karier akting, mengikuti jejaknya yang memulai debut di usia 10 tahun.
- Mario dan Dominic akan tampil bersama dalam film liburan 'Christmas at the Starlight', yang juga dibintangi Tony Danza, menandai kolaborasi tiga generasi dalam satu produksi.
- Film tersebut dijadwalkan tayang pada musim liburan 2026 di jaringan Great American Family, memperkuat tren film keluarga yang melibatkan aktor lintas generasi.

Mario Lopez, aktor yang namanya melekat lewat serial ikonik Saved by the Bell, tengah menikmati fase baru dalam hidupnya: menyaksikan sang putra, Dominic Lopez (12), mulai menapaki tangga karier di industri hiburan. Dalam sebuah acara yang digelar Variety bertajuk Power of Young Hollywood di Los Angeles, Lopez mengaku merasakan kebanggaan tersendiri—lebih dari empat dekade setelah ia sendiri memulai debutnya sebagai aktor cilik.
Momen ini semakin terasa istimewa karena ayah dan anak itu baru saja menyelesaikan syuting film natal berjudul Christmas at the Starlight. Dalam film tersebut, Dominic berperan sebagai putra dari karakter yang dimainkan Mario, sementara legenda televisi Tony Danza memerankan kakeknya. “Ini momen yang sangat spesial karena saya sendiri pernah menjadi aktor cilik, dan sekarang melihat anak saya menjalani perjalanan serupa,” ujar Lopez kepada People, seperti dikutip dari laporan yang beredar.
Perjalanan karier Mario Lopez sendiri dimulai sejak usia sepuluh tahun, ketika ia memerankan Tomás Del Gato dalam sitkom a.k.a. Pablo. Setelah itu, ia tampil di Kids Incorporated, The Golden Girls, hingga debut filmnya di Colors. Namun, nama besarnya melejit lewat peran A.C. Slater, seorang pegulat SMA, dalam Saved by the Bell yang tayang mulai 1989. Serial itu juga melambungkan nama Mark-Paul Gosselaar, Tiffani Thiessen, Elizabeth Berkley, dan mendiang Dustin Diamond.
Keterlibatan Dominic dalam Christmas at the Starlight bukanlah kebetulan. Bocah belasan tahun itu telah mengantongi sejumlah kredit akting, termasuk film natal sebelumnya, Chasing Christmas (2025), serta proyek Bad Counselors arahan Chris Dowling. Ia juga sempat terlibat dalam syuting Matlock yang dibintangi Kathy Bates—sebuah kebanggaan tersendiri yang pernah diabadikan Mario dalam unggahan Instagram-nya.
Film Christmas at the Starlight sendiri mengisahkan Frank (Tony Danza), seorang entertainer senior yang mempertimbangkan menjual klub makan keluarga yang telah ia kelola selama 40 tahun. Mario berperan sebagai putranya, sementara Dominic sebagai cucu. Proses syuting berlangsung di Lewiston, New York, dengan pengambilan gambar tambahan di Buffalo. Mario mengaku telah melihat hasil rough cut dan merasa puas. “Banyak hati di dalamnya, berorientasi keluarga, dan saya senang dengan hasilnya,” katanya. Ia juga memuji penampilan Dominic: “Dominic melakukan pekerjaan yang sangat, sangat baik. Saya sangat bangga padanya.”
Kebanggaan Mario tidak berhenti di situ. Istrinya, Courtney Lopez, turut berkontribusi dengan menyanyikan sebuah lagu untuk film tersebut. Keluarga ini memang kental dengan dunia seni; selain Dominic, mereka juga memiliki putri Gia (15) dan putra bungsu Santino (7). Bagi Mario, kolaborasi ini menjadi semacam estafet generasi yang jarang terjadi di Hollywood.
Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Hollywood. Di Indonesia, tren film keluarga yang melibatkan aktor lintas generasi juga mulai menguat, meski dalam skala yang lebih kecil. Beberapa sineas tanah air mulai menghadirkan cerita yang mengangkat nilai kekeluargaan, sejalan dengan meningkatnya permintaan konten yang ramah keluarga di platform streaming. Kehadiran Christmas at the Starlight bisa menjadi referensi bagaimana industri perfilman dapat merangkul regenerasi pemain tanpa kehilangan daya tarik bagi penonton lintas usia.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Dominic akan mampu mengukir namanya sendiri di Hollywood, tetapi juga bagaimana industri hiburan global—termasuk Indonesia—akan terus memberi ruang bagi talenta muda yang tumbuh di bawah bayang-bayang orang tua terkenal. Apakah ini akan menjadi tren yang bertahan, atau sekadar fenomena sesaat? Yang jelas, bagi Mario Lopez, momen ini adalah hadiah terbaik yang tak ternilai.



