Ular Kukri Gunung Jawa Tertangkap Kamera di Lereng Anjasmoro: Gigitan Tajam, Bisa Robek Telur
Baca dalam 60 detik
- Spesies ular kukri gunung jawa (Oligodon bitorquatus) ditemukan di hutan sekunder Wonosalam, Jombang, pada April 2026, menambah data sebaran spesies langka tersebut.
- Gigi ular ini menyerupai pisau kukri Nepal, memungkinkannya merobek telur mangsa, namun tidak berbisa dan berstatus risiko rendah menurut IUCN.
- Temuan ini menjadi indikator ekologis kawasan penyangga Tahura Raden Soerjo yang masih alami, meski terancam alih fungsi lahan untuk agroforestri.

Peneliti independen Muhammad Asyraf Rijalullah (26) tak menyangka survei lapangan singkat di lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur, berujung pada perjumpaan dengan ular kukri gunung jawa (Oligodon bitorquatus), spesies yang jarang terdokumentasikan di alam liar. Temuan pada 5-6 April 2026 itu sekaligus mengungkap keunikan anatomi gigi ular yang menyerupai pisau tradisional Nepal.
Asyraf, alumnus Magister Biologi Universitas Brawijaya yang pernah berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society Indonesia, bersama timnya melakukan pengecekan awal keanekaragaman satwa di hutan sekunder Wonosalam. Hari pertama pengamatan berlalu tanpa temuan istimewa. Namun, pada hari kedua sekitar pukul 10 pagi, saat tim menuruni lereng licin usai hujan malam sebelumnya, Asyraf melihat pergerakan kecil di bawah sepotong kayu di tepi jalur.
“Saya selalu menganggap setiap ular yang ditemukan itu berbahaya hingga identitasnya benar-benar diketahui,” ujarnya, Kamis (2/7/2026). Dengan bantuan snake hook, tim mengamati pola tubuh, bentuk kepala, hingga bagian bawah tubuh ular. Setelah memastikan bukan ular karang berbisa, Asyraf baru berani memegangnya. “Ini pengalaman pertama saya bertemu langsung spesies tersebut,” tambahnya.
Penampilan ular kukri gunung jawa tidak mencolok; warna tubuh bagian atas sederhana dan mudah menyatu dengan serasah daun. Keunikannya terletak pada susunan gigi yang melengkung menyerupai pisau kukri, pisau tradisional Nepal. Bentuk gigi tersebut membantu mereka merobek atau membuka telur yang menjadi sumber pakan utama. “Itulah alasan kelompok ini disebut ular kukri,” jelas Asyraf.
Hal lain yang menarik adalah waktu perjumpaan. Berdasarkan literatur ilmiah, ular kukri dikenal aktif pada waktu senja atau fajar (krepuskular). Namun, individu yang ditemukan tim justru muncul pada pukul 10 pagi, di luar periode aktif yang selama ini tercatat. “Ini menarik, karena kami melihatnya bukan saat senja atau menjelang subuh seperti yang banyak disebutkan dalam literatur,” kata Asyraf.
Agus Nurrofik (29), Research and Development Sahabat Alam Indonesia, menjelaskan lokasi perjumpaan berada di kawasan penyangga antara hutan produksi dan hutan lindung di Wonosalam, tidak jauh dari perbatasan Tahura Raden Soerjo. Vegetasi sekitar didominasi tegakan pinus (Pinus merkusii), eukaliptus (Eucalyptus sp.), serta pohon pegunungan yang membentuk kanopi cukup rapat. “Kondisi itu menunjukkan kawasan tersebut masih cukup baik mendukung keberadaan satwa liar, termasuk herpetofauna,” ujarnya.
Meski demikian, Agus mengingatkan ancaman nyata berupa perubahan tutupan lahan. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kawasan di Wonosalam mulai beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan. “Ekspansi agroforestri jadi ancaman paling terlihat saat ini. Ada area yang berubah jadi kebun kopi dan jeruk,” katanya. Dokumentasi ular kukri gunung jawa penting untuk melengkapi data keanekaragaman hayati dan menjadi dasar penyusunan profil ekosistem Wonosalam.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa masih banyak spesies endemik yang belum terpetakan secara menyeluruh. Data dari peneliti independen seperti Asyraf dan kolaborasi dengan komunitas lokal diharapkan tidak berhenti di kalangan akademisi, tetapi bisa mendorong kegiatan edukasi dan ekowisata berbasis alam. “Masyarakat makin mengenal satwa yang hidup di sekitar mereka dan ikut menjaga habitatnya,” pungkas Agus.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana laju alih fungsi lahan di Wonosalam akan mengancam habitat unik seperti yang ditemukan ini. Akankah data ilmiah yang baru terkumpul mampu mendorong kebijakan perlindungan yang lebih ketat, atau justru kalah oleh tekanan ekonomi agroforestri?



