Tarot Kian Digandrungi Gen Z: Bukan Ramalan, Melainkan Ruang Curhat dan Validasi Diri
Baca dalam 60 detik
- Fenomena tarot di kalangan anak muda Indonesia meningkat pesat, didorong kebutuhan akan kepastian di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial.
- Para pembaca tarot menegaskan layanan mereka bukan pengganti psikolog, melainkan suplemen untuk mencari kejelasan dan dukungan emosional.
- Para ahli melihat tarot sebagai indikator defisit akses layanan kesehatan mental dan ruang aman bagi generasi muda, bukan sekadar kebangkitan takhayul.

Mahasiswi berusia 21 tahun, Azaliya Raysa Harnum, merogoh kocek Rp85 ribu untuk sesi pembacaan tarot daring demi menjawab kegelisahan soal karier. Ia mengajukan tiga pertanyaan, masing-masing dijawab melalui lima kartu. Hasilnya? Bukan ramalan masa depan yang mengejutkan, melainkan penguatan atas keyakinan yang sudah lama ia pendam. “Aku jadi semakin yakin, oh berarti emang jalannya kayak gini aja sih, tinggal aku ngelakuin sama apa yang udah aku rencanain,” ujarnya. Pengalaman Azaliya ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah anak muda yang menjadikan tarot sebagai alat mencari validasi di tengah ketidakpastian hidup.
Fenomena tarot di kalangan Gen Z dan milenial Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Dari layanan daring hingga booth di kafe, jasa pembacaan tarot mudah dijumpai dan ramai diperbincangkan di media sosial. Tarot tidak lagi dianggap praktik mistis semata, melainkan medium untuk memahami diri dan bahkan menjadi ladang pekerjaan baru. Alex (20), seorang tarot reader dengan akun Instagram @ReadangReading, mulai mendalami tarot sejak 2015 secara otodidak. Pada 2021, ia memberanikan diri membuka jasa berbayar, didorong teman-temannya saat pandemi. Kini, kliennya datang dari berbagai usia, 16 hingga 74 tahun, dengan mayoritas berada di rentang 18-35 tahun.
Menurut Alex, anak muda yang datang kepadanya sedang dalam fase pencarian jati diri. Mereka ingin memahami apa yang disukai dan tidak disukai, serta menentukan arah studi dan pekerjaan. Namun, tak jarang mereka hanya butuh tempat untuk bercerita. “Orang selain memang butuh bimbingan, butuh didengar. Bukan butuh direspons, bahkan butuh didengar, butuh di-support,” tuturnya. Alex pun menegaskan bahwa ia tidak memberikan jawaban yang sekadar menyenangkan, melainkan apa yang klien butuh dengar. Jika hasil pembacaan mengecewakan, ia tidak mengubahnya menjadi kabar baik. “Nggak apa-apa kalau mungkin ini bukan yang mau kamu dengar, tapi ini yang kamu butuh dengar,” tegasnya.
Popularitas tarot juga membuka ruang ekonomi baru. Alex mengaku pendapatannya tidak selalu stabil, tetapi meningkat pada momen tertentu seperti Valentine, tahun baru, dan Halloween. Ia juga kerap mengisi booth di kafe atau acara. Namun, di balik komersialisasi, ada suara berbeda dari Yehezkiel (21). Ia memilih tidak menarik bayaran atas kemampuan membaca tarot yang ia anggap sebagai karunia Tuhan. “Gua nggak mau apa yang Tuhan kasih secara gratis ke gua, gua duitin ke orang lain. Jahat aja rasanya,” ujarnya. Yehezkiel khawatir komersialisasi mengubah tujuan awal dari hobi menjadi sekadar uang.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai maraknya tarot di kalangan Gen Z bukan sekadar kebangkitan kepercayaan pada ramalan. Ia menyebut tarot sebagai “meaning making technology”, perangkat simbolik yang membantu menata pengalaman hidup yang terasa kacau. Menurutnya, popularitas tarot erat kaitannya dengan ketidakpastian struktural yang dihadapi anak muda, seperti pasar kerja yang jenuh dan melemahnya otoritas institusional. “Ledakan popularitas di kalangan Gen Z ini bukan sebagai gejala kebangkitan takhayul, melainkan respons terhadap ketidakpastian struktural,” jelasnya. Rakhmat juga mengingatkan bahwa tarot bukan substitusi agama, melainkan suplemen.
Di Indonesia, tarot diibaratkan sebagai bentuk baru dari primbon, weton, atau ramalan bintang. Yang dibeli klien sebenarnya bukan akurasi prediksi, melainkan pengalaman didengarkan tanpa dihakimi, katarsis, dan izin psikologis untuk mengambil keputusan. Namun, Rakhmat mengingatkan risiko terbesar dari ketergantungan pada tarot adalah pergeseran locus of control ke luar diri dan tertundanya penanganan masalah kesehatan mental yang serius. Ia menilai fenomena ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai penyakit sosial, melainkan indikator. “Tarot reading ini adalah termometer yang menunjukkan defisit akses layanan psikologis, defisit ruang aman untuk bercerita, dan defisit kepastian ekonomi bagi anak muda,” pungkasnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana masyarakat dan pemerintah merespons kebutuhan anak muda akan ruang aman dan dukungan psikologis. Apakah tarot akan terus menjadi pelarian, atau justru menjadi pemicu untuk memperbaiki akses layanan kesehatan mental di Indonesia? Jawabannya bergantung pada keseriusan kita dalam mendengarkan kegelisahan generasi muda.



