Djokovic Akui Sembunyikan Masalah Kesehatan Bertahun-tahun Usai Kolaps di Cincinnati
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia itu mengakui telah lama berjuang melawan kondisi medis yang belum diungkap, yang kambuh saat turnamen di Cincinnati.
- Kekalahan mengejutkan dari Thiago Tirante menjadi alarm bagi persiapan Djokovic menjelang AS Terbuka, di tengah persaingan ketat dengan generasi muda.
- Dengan jadwal yang semakin selektif, masa depan partisipasi Djokovic di turnamen tertentu kini diragukan, menyusul pernyataannya yang bernada pesimistis.

Novak Djokovic, petenis dengan koleksi 24 gelar Grand Slam, akhirnya membuka tabir soal kondisi kesehatannya yang selama ini ia sembunyikan. Usai tampak limbung dan hampir muntah di lapangan saat kalah dari Thiago Agustรญn Tirante di Cincinnati Open, Sabtu lalu, ia mengaku telah bergelut dengan masalah kesehatan yang belum diidentifikasi selama bertahun-tahun. Pengakuan ini muncul di saat krusial, hanya dua pekan menjelang AS Terbuka, turnamen yang menjadi ajang perburuan gelar mayor ke-25 yang belum pernah diraih siapa pun di era Open.
Dalam laga yang berlangsung di Mason, Ohio, Djokovic sebenarnya memenangi set pertama dengan meyakinkan. Namun, seiring berjalannya pertandingan di tengah cuaca panas dan lembap, performanya menurun drastis. Ia terlihat berlutut di lapangan, memegang handuk di wajah, dan akhirnya membutuhkan perawatan medis. Petenis asal Serbia itu pun harus mengakui keunggulan lawannya yang berperingkat 50 dunia dengan skor 2-6, 6-4, 6-4. Ini merupakan kekalahan pertamanya sejak mencapai semifinal Wimbledon, dan menjadi sinyal bahwa masalah fisiknya bukan sekadar kelelahan biasa.
Djokovic menegaskan bahwa cuaca bukanlah biang keladi utama. "Ini karena masalah kesehatan yang saya miliki. Saya sudah menghadapinya selama bertahun-tahun. Ini menyebabkan banyak masalah, terutama saat kelembapan dan panas tinggi," ujarnya kepada wartawan. Ia juga menambahkan bahwa faktor psikologis seperti kegugupan memperburuk kondisinya. Meski demikian, ia enggan membeberkan detail kondisi medis yang dideritanya, membuat publik dan pengamat berspekulasi tentang dampak jangka panjangnya terhadap kariernya.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Djokovic yang tengah mengejar rekor 25 gelar Grand Slam, melampaui rekor Margaret Court. Musim ini, ia tampil sangat selektif, hanya mengikuti tiga turnamen di luar Grand Slam. Setelah mencapai final Australia Terbuka dan kalah dari Carlos Alcaraz, serta tersingkir di semifinal Wimbledon oleh Jannik Sinner, kegagalan di Cincinnati menimbulkan pertanyaan tentang kesiapannya menghadapi AS Terbuka yang dimulai 30 Agustus. Persaingan dengan generasi baru seperti Alcaraz dan Sinner semakin ketat, dan kondisi fisik yang tidak prima bisa menjadi penghalang besar.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kabar ini tentu menarik perhatian. Djokovic adalah salah satu ikon global yang pertandingannya selalu dinanti, termasuk di Indonesia yang memiliki basis penggemar tenis yang cukup besar. Jika kondisinya terus memburuk, bisa jadi kita akan jarang melihat aksinya di turnamen-turnamen besar, mengingat ia sendiri meragukan untuk kembali ke Cincinnati tahun depan. "Sepertinya saya tidak akan kembali tahun depan," katanya, meski ia masih menyisakan harapan dengan berkata, "Tapi mari kita lihat apa yang masa depan bawa. Saya harap saya bisa."
Di sisi lain, kemenangan ini menjadi momen terbesar dalam karier Thiago Tirante. Petenis asal Argentina itu mengaku gugup menghadapi legenda hidup, tetapi berhasil mengendalikan emosi. "Saya pikir saya melakukan pekerjaan dengan baik di dalam lapangan. Saya mengelola dengan baik rasa gugup bermain melawan legenda seperti Novak," katanya. Ia juga mendedikasikan kemenangan ini untuk keluarga dan teman-temannya di Argentina yang menonton dari layar kaca. Tirante selanjutnya akan menghadapi Martin Landaluce dari Spanyol di babak ketiga.
Dengan dua pekan tersisa sebelum AS Terbuka, Djokovic harus segera memulihkan kondisinya. Pertanyaannya, akankah masalah kesehatan yang selama ini ia sembunyikan menjadi penghalang terbesarnya untuk mencetak sejarah? Atau justru ini menjadi motivasi tambahan baginya untuk membuktikan bahwa ia masih mampu bersaing di level tertinggi? Publik tenis dunia, termasuk Indonesia, akan menantikan jawabannya di Flushing Meadows.


