Kamerun Akhiri Penantian 22 Tahun, Taklukkan Malawi untuk Gelar Piala Afrika Wanita Pertama
Baca dalam 60 detik
- Kamerun menaklukkan Malawi 3-0 di final Wafcon 2026, merebut gelar perdana setelah tiga kali gagal di partai puncak.
- Keberhasilan ini tak lepas dari keputusan CAF memperluas turnamen dari 12 menjadi 16 tim, memberi peluang bagi negara non-unggulan.
- Kedua finalis dipastikan tampil di Piala Dunia Wanita 2027, sinyal persaingan Afrika yang semakin kompetitif.

Kamerun akhirnya memecah kebuntuan sejarah. Untuk pertama kalinya, tim berjuluk Singa Betina itu mengangkat trofi Piala Afrika Wanita (Wafcon) setelah di partai puncak, Minggu (2/8/2026) dini hari WIB, menekuk Malawi dengan skor telak 3-0 di Stadion Moulay Hassan, Rabat, Maroko. Kemenangan ini bukan sekadar gelar, melainkan penebusan atas tiga kekalahan beruntun di final pada 2004, 2014, dan 2016, yang semuanya dipersembahkan oleh Nigeria.
Sepanjang laga, Kamerun tampil dominan. Dua gol cepat di babak pertama, masing-masing lewat sundulan Marie Ngah Manga pada menit ke-20 dan voli spektakuler Naomi Eto sepuluh menit kemudian, sudah menempatkan mereka di atas angin. Gol ketiga datang di masa injury time babak pertama, lagi-lagi melibatkan duet Eto dan Ngah Manga, yang memanfaatkan blunder kiper Malawi, Mercy Sikelo. Dengan dua golnya di final, Ngah Manga memastikan diri menjadi top skor turnamen dengan koleksi lima gol, sejajar dengan Temwa Chawinga dan Barbra Banda.
Kemenangan ini terasa istimewa mengingat Kamerun nyaris absen dari turnamen. Mereka gagal lolos setelah kalah agregat 1-3 dari Aljazair di babak kualifikasi. Namun, keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) memperluas jumlah peserta dari 12 menjadi 16 tim membuka jalan bagi Kamerun untuk tampil berdasarkan peringkat dunia. Keputusan yang awalnya kontroversial itu kini terbukti tepat, tidak hanya memberi kesempatan bagi Kamerun, tetapi juga membuktikan bahwa kesenjangan antara tim elit dan non-unggulan di Afrika semakin menyempit.
Di sisi lain, Malawi, yang menempati peringkat 153 dunia atau yang terendah di turnamen, tampil sebagai kuda hitam yang mengejutkan. Kehadiran duet Chawinga bersaudara, Tabitha dan Temwa, menjadi motor serangan mereka hingga ke final. Namun, lini belakang Kamerun yang digalang kiper muda berbakat Michaely Bihina mampu meredam agresivitas mereka. Bihina, yang tampil gemilang sepanjang turnamen, menjadi tembok terakhir yang sulit ditembus. Performanya di final melengkapi catatan impresifnya di babak perempat final dan semifinal, saat ia menjadi pahlawan kemenangan atas Nigeria dan Maroko.
Bagi Indonesia, keberhasilan Kamerun dan Malawi ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya investasi pada sepak bola wanita. Di tengah hiruk pikuk sepak bola pria, prestasi Afrika ini menunjukkan bahwa dengan pembinaan yang serius dan kesempatan bertanding yang setara, negara dengan peringkat rendah pun bisa bersaing di level tertinggi. Ini menjadi cermin bagi pengembangan sepak bola wanita di Asia Tenggara, yang masih tertinggal jauh dari standar Afrika. Pertanyaan besarnya, akankah federasi-federasi di kawasan kita mulai melirik potensi yang sama?
Di balik kemenangan ini, ada tangan dingin pelatih Valentine Nguele yang baru menukangi tim sejak Juni. Ia berhasil membangun skuad yang solid dan disiplin, yang mampu mengalahkan Nigeria di perempat final dan menaklukkan tuan rumah Maroko melalui adu penalti di semifinal. Keberaniannya memadukan pemain muda dan senior menjadi kunci sukses. Sementara itu, presiden federasi sepak bola Kamerun, Samuel Eto'o, yang menyaksikan langsung dari tribun, merayakan setiap gol dengan euforia. Kemenangan ini juga membawa hadiah uang sebesar 2 juta dolar AS, menjadikan Kamerun sebagai negara keempat yang pernah meraih gelar ini setelah Nigeria, Guinea Ekuatorial, dan Afrika Selatan.
Dengan berakhirnya Wafcon 2026, perhatian kini tertuju pada Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil. Kamerun dan Malawi akan bergabung dengan Aljazair dan Maroko sebagai wakil Afrika. Bagi Malawi, ini adalah debut bersejarah mereka di panggung dunia. Sementara bagi Kamerun, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa gelar Wafcon bukanlah kebetulan belaka. Pertanyaannya, dapatkah mereka bersaing dengan negara-negara top dunia? Atau akankah muncul kejutan lain dari benua Afrika? Yang jelas, sepak bola wanita Afrika sedang berada di jalur yang tepat.



