Cody Simpson Alami Cedera Beruntun: Pita Suara Rusak dan Lutut Dislokasi
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Cody Simpson harus menjalani istirahat total setelah mengalami pendarahan pita suara dan cedera lutut saat latihan video musik.
- Kondisi ini memaksa penundaan album baru dan jadwal tur, meskipun ia tetap berusaha berinteraksi dengan penggemar melalui acara dengar pendapat.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi musisi Indonesia tentang pentingnya manajemen kesehatan vokal dan fisik di tengah jadwal padat.

Penyanyi asal Australia, Cody Simpson, harus menerima kenyataan pahit: ia tidak bisa berjalan maupun berbicara untuk sementara waktu. Cedera beruntun yang dialaminya—pita suara rusak akibat pendarahan dan lutut yang mengalami dislokasi—memaksanya untuk menjalani masa pemulihan yang panjang. Kondisi ini tidak hanya menghentikan aktivitas bermusiknya, tetapi juga menunda perilisan album dan rencana konser yang sudah dinanti-nantikan penggemar.
Simpson, yang kini berusia 29 tahun, mengungkapkan kondisinya melalui unggahan di Instagram pekan ini. Ia membagikan foto dirinya yang menggunakan kruk serta video singkat saat berkonsultasi dengan dokter. Dalam keterangannya, ia menulis bahwa alam semesta sedang menguji dirinya tahun ini. Ia mengaku telah menjalani istirahat vokal secara terputus-putus selama hampir tiga bulan untuk menyembuhkan pita suara yang rusak. Dokter memutuskan untuk melakukan operasi guna mempercepat pemulihan, namun sebelum operasi dilaksanakan, lututnya justru mengalami dislokasi saat latihan untuk video musik baru. Akibatnya, operasi harus ditunda hingga kondisi lutut membaik.
"Saya tidak bisa berjalan atau berbicara untuk beberapa waktu ke depan, dan tidak bisa bernyanyi atau menari selama berbulan-bulan," tulis Simpson. Ia menambahkan bahwa selama bertahun-tahun ia terus memacu tubuh dan pikirannya tanpa henti, dan kini ia harus menerima kenyataan bahwa ini adalah "istirahat paksa" yang perlu dijalani. Cedera ini bermula saat ia memaksakan diri bernyanyi di studio meskipun sedang mengalami infeksi sinus yang tidak disadarinya. Pendarahan pada pita suara (vocal hemorrhage) ditemukan lebih dari sebulan lalu, dan sejak itu ia bolak-balik menjalani terapi vokal.
Meskipun dalam kondisi terbatas, Simpson tidak ingin kehilangan kontak dengan penggemarnya. Ia mengumumkan akan mengadakan acara dengar pendapat (listening event) di Los Angeles bagi penggemar yang ingin mendengar single terbarunya lebih awal. "Karena saya tidak bisa bernyanyi dan tidak bisa bergerak, saya ingin mencari cara kreatif agar beberapa penggemar bisa menjadi yang pertama mendengar single saya berikutnya," tulisnya di Instagram Story. Ia juga menyatakan bahwa meskipun album dan pertunjukan langsung harus menunggu, ia masih memiliki beberapa karya yang bisa dibagikan selama masa pemulihan.
Kisah Simpson ini menjadi pengingat bagi para musisi, termasuk di Indonesia, bahwa kesehatan vokal dan fisik adalah aset yang tak ternilai. Banyak penyanyi Tanah Air yang kerap memaksakan diri tampil meski dalam kondisi kurang fit, tanpa menyadari risiko cedera permanen. Spesialis THT di Jakarta, dr. Andika Wibawa, Sp.THT-KL, menekankan pentingnya istirahat vokal saat mengalami infeksi saluran napas. "Bernyanyi saat sinusitis atau faringitis akut dapat menyebabkan pendarahan pita suara yang membutuhkan waktu pemulihan berbulan-bulan, bahkan operasi," ujarnya. Kasus Simpson menunjukkan bahwa bahkan artis internasional sekalipun tidak kebal terhadap konsekuensi dari memaksakan diri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Simpson dapat kembali ke puncak karier seperti sebelum cedera? Dengan semangat pantang menyerah yang ia tunjukkan, banyak penggemar optimistis. Namun, proses pemulihan yang panjang membutuhkan kesabaran dan disiplin. Bagi industri musik Indonesia, kasus ini bisa menjadi momentum untuk lebih memperhatikan program kesehatan vokal bagi para artis, terutama yang memiliki jadwal padat. Sebab, seperti kata Simpson, "Kau tidak bisa menahanku! Aku akan kembali lebih kuat." Tapi kekuatan itu harus dibangun di atas fondasi kesehatan yang kokoh.



