Antre Warga Banyumas Membeludak di Layanan Speling: Akses Dokter Spesialis Kini Sampai Kecamatan
Baca dalam 60 detik
- Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) Jawa Tengah di Banyumas diserbu ratusan warga yang ingin periksa kesehatan gratis tanpa biaya besar.
- Wagub Taj Yasin meninjau langsung layanan yang melibatkan dokter spesialis dan RSUD Prof. Margono Soekarjo, menegaskan komitmen mendekatkan akses kesehatan ke tingkat kecamatan.
- Hingga Juni 2026, Speling telah menjangkau 1.310 desa/kelurahan dengan total 109.304 penerima manfaat, menunjukkan skala besar program ini.

Ratusan warga Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, memadati Klinik NU Medika sejak Sabtu pagi (4/7) untuk mengikuti Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Mereka rela mengantre demi mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis dari dokter spesialis, sebuah layanan yang biasanya hanya tersedia di rumah sakit besar dengan biaya tidak murah.
Antrean tampak tertib di sejumlah titik, mulai dari pendaftaran hingga poli pemeriksaan. Warga datang dengan berbagai keluhan, dari flu ringan hingga kebutuhan rontgen paru. Salah seorang peserta, Naimatul, mengaku sengaja datang untuk memeriksakan paru-parunya karena sedang flu. "Sangat terbantu, karena sedang flu jadi mau rontgen paru," ujarnya saat menunggu giliran.
Program Speling kali ini menghadirkan layanan poli umum, poli gigi, rawat jalan, serta pemeriksaan laboratorium sederhana seperti gula darah dan kolesterol. Tenaga medis yang bertugas berasal dari Kabupaten Banyumas, termasuk tim dari RSUD Prof. Margono Soekarjo. Kolaborasi ini menjadi kunci untuk menghadirkan layanan spesialis yang selama ini sulit dijangkau warga di tingkat kecamatan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen turun langsung meninjau pelaksanaan program. Dalam kunjungannya, ia menyapa warga yang tengah diperiksa dan melihat perkembangan fasilitas Klinik NU Medika. Menurut Taj Yasin, Speling adalah wujud komitmen pemprov untuk mendekatkan akses kesehatan spesialis hingga ke desa, sehingga warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke kota untuk berobat.
Bagi warga Banyumas, kehadiran Speling menjadi angin segar di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan spesialis. Selama ini, untuk menemui dokter spesialis, mereka harus pergi ke RSUD Prof. Margono Soekarjo di Purwokerto atau bahkan ke rumah sakit di kota lain. Biaya transportasi dan waktu menjadi beban tambahan. Program ini memangkas hambatan tersebut, meskipun masih bersifat mobile dan belum permanen.
Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah keberlanjutan dan perluasan jangkauan. Dengan capaian 1.310 desa dari total 8.559 desa/kelurahan di Jawa Tengah, masih ada sekitar 85 persen wilayah yang belum tersentuh. Pemerintah provinsi perlu memastikan ketersediaan tenaga spesialis dan pendanaan agar program ini tidak hanya menjadi seremoni sesaat. Pertanyaan besarnya: mampukah Speling menjadi model tetap yang diadopsi daerah lain di Indonesia?



