Perawat Thailand Langgar Tabu Buddha Demi Selamatkan Korban Kecelakaan yang Tewaskan 10 Biksu
Baca dalam 60 detik
- Seorang perawat di Thailand timur laut melanggar aturan agama Buddha yang melarang perempuan menyentuh biksu saat menolong korban tabrakan beruntun yang menewaskan 10 biksu.
- Kecelakaan terjadi setelah seorang bocah 11 tahun mengemudikan pikap tanpa izin dan menabrak rombongan 35 biksu serta lima pengikut awam di Provinsi Mukdahan.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang prioritas antara kepatuhan religius dan tindakan penyelamatan darurat di negara mayoritas Buddha seperti Thailand.

Seorang perawat berusia 61 tahun di Thailand timur laut memilih mengesampingkan larangan agama Buddha yang melarang perempuan menyentuh biksu demi menyelamatkan korban kecelakaan lalu lintas yang menewaskan sepuluh pendeta Buddha. Tindakan Wiwat Laonoi itu terjadi di Provinsi Mukdahan, Kamis lalu, saat ia menjadi penolong pertama di lokasi kecelakaan yang melibatkan rombongan biksu dan pengikut awam.
Kecelakaan bermula ketika seorang anak laki-laki berusia 11 tahun mengambil pikap milik orang tuanya tanpa izin dan melaju dengan kecepatan tinggi menabrak iring-iringan yang terdiri dari 35 biksu dan lima warga sipil. Benturan keras menyebabkan belasan korban tergeletak di jalan. Wiwat, yang kebetulan melintas bersama rekannya Parichat Kochakueng, segera turun dan memberikan pertolongan meskipun ada aturan ketat dalam tradisi Buddha Theravada yang melarang kontak fisik antara perempuan dan biksu.
“Orang-orang berteriak, ‘Tunggu, itu biksu!’, tapi saya bilang tidak masalah, sekarang ini pasien,” ujar Wiwat kepada media setempat. Perawat yang telah mengabdi selama empat dekade ini mengaku belum pernah melihat kecelakaan sebesar itu. “Belum ada petugas lain yang tiba, hanya saya sendiri. Saya harus tetap tenang,” katanya.
Wiwat segera memeriksa denyut nadi, melakukan resusitasi jantung paru (CPR), dan berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan. Ia berpindah dari satu korban ke korban lain dengan cepat. Dari total 40 korban, lima biksu tewas di tempat dan lima lainnya meninggal di rumah sakit. Hingga Jumat, sepuluh korban masih dirawat—dua dalam kondisi kritis dan delapan lainnya luka ringan.
Keputusan Wiwat melanggar tabu menuai beragam reaksi. Di Thailand, aturan biksu tidak boleh disentuh perempuan—bahkan oleh ibu atau saudara—sangat dijunjung. Namun, banyak pihak memuji keberaniannya. “Dia menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan bisa melampaui doktrin agama dalam situasi darurat,” kata seorang analis sosial dari Universitas Chulalongkorn. Kasus ini juga mengingatkan pada insiden serupa di Indonesia, di mana relawan perempuan kerap menghadapi dilema saat menolong korban yang memiliki latar belakang agama ketat. Di Indonesia, meski tidak ada larangan eksplisit, sensitivitas budaya tetap menjadi pertimbangan dalam pelatihan pertolongan pertama.
Wiwat, yang berasal dari Mukdahan, berencana pensiun pada September mendatang. Ia berharap bisa terus menjadi relawan di komunitas terpencil yang minim akses medis. “Sebagai orang Thailand, sebagai perawat, saya bangga bisa menggunakan ilmu untuk membantu sesama manusia,” tuturnya. Kejadian ini membuka diskusi lebih luas: apakah aturan agama harus dikesampingkan demi menyelamatkan nyawa, dan bagaimana sistem tanggap darurat di negara-negara dengan tradisi kuat bisa mengakomodasi situasi serupa?



