Hun Sen: Piala Dunia 2026 Buktikan 'Geopolitik Sepak Bola' Ubah Peta Kekuatan Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden Senat Kamboja Hun Sen menyebut Piala Dunia 2026 sebagai bukti munculnya era baru 'geopolitik sepak bola' di mana negara kecil dan miskin mampu bersaing setara dengan raksasa tradisional.
- Menurut Hun Sen, sepak bola menerapkan standar universal tanpa diskriminasi ekonomi atau demografi, berbeda dengan politik internasional yang kian kacau dan tidak menentu.
- Ia memprediksi bahwa dalam waktu dekat, negara berkembang dengan populasi kecil akan menjadi juara dunia, menandai pergeseran peta kekuatan olahraga global.

Presiden Senat Kamboja merangkap Kepala Negara Hun Sen menilai gelaran Piala Dunia 2026 telah menjadi panggung perubahan besar dalam tatanan olahraga global. Lewat unggahan media sosial pada 2 Juli, politikus senior itu memperkenalkan istilah "geopolitik sepak bola" untuk menggambarkan fenomena negara-negara kecil dan berkembang yang kini mampu menantang dominasi tim-tim kaya dan berpenduduk besar.
Hun Sen menegaskan bahwa sepak bola memiliki aturan main yang berbeda dengan politik internasional. "Geopolitik sepak bola benar-benar berbeda dari geopolitik politik," tulisnya. Menurut dia, dunia politik saat ini kehilangan tatanan dan semakin turbulen, sementara sepak bola tetap menjunjung standar universal yang tidak membeda-bedakan status ekonomi atau jumlah penduduk suatu negara.
Dalam pengamatannya terhadap Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 tim, Hun Sen melihat kehadiran semakin banyak negara dengan ekonomi kecil dan populasi terbatas. Ia mencontohkan sejumlah kejutan di mana tim dari negara miskin berhasil mengeliminasi atau setidaknya membuat gusar tim-tim unggulan. "Bahkan saat mereka tidak menang, mereka membuat negara kaya cemas setiap kali mencetak gol," ujarnya.
Hun Sen membandingkan situasi ini dengan ketidakpastian politik global yang menurutnya semakin kacau. "Dalam politik, negara besar sering mendikte negara kecil. Tapi di lapangan hijau, yang bicara adalah performa, bukan kekuatan ekonomi atau jumlah penduduk," kata mantan perdana menteri itu. Ia menambahkan bahwa sepak bola menawarkan arena kompetisi yang lebih meritokratis.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat timnas Garuda juga berupaya menembus elite sepak bola Asia dan dunia. Keberhasilan negara-negara seperti Maroko yang mencapai semifinal Piala Dunia 2022, atau kejutan-kejutan di Piala Dunia 2026, menjadi bukti bahwa kesenjangan dengan negara maju semakin menyempit. Pengamat sepak bola Indonesia menilai bahwa dengan pembinaan yang tepat, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari mengikuti jejak tersebut.
Hun Sen mengakui bahwa istilah "geopolitik sepak bola" mungkin belum lazim digunakan, namun ia yakin momentum ini terus berkembang bagi negara-negara berkembang. "Saya tidak tahu apakah ada orang di dunia yang pernah menggunakan istilah itu sebelumnya. Tapi bagi saya, kesempatan itu telah tiba dan terus tumbuh untuk semua negara berkembang," pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah prediksi Hun Sen terbukti, dan apakah Indonesia bisa menjadi bagian dari perubahan geopolitik sepak bola tersebut?



