Mesir Siap Bikin Kejutan: Bukan Hanya Salah, Kekuatan Kolektif Jadi Ancaman bagi Argentina
Baca dalam 60 detik
- Mesir mengandalkan mentalitas kompetitif dan fleksibilitas taktik, bukan hanya Mohamed Salah, untuk menghadapi Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Sebanyak 17 dari 26 pemain Mesir berasal dari Liga Premier Mesir, menunjukkan dominasi klub lokal seperti Al Ahly sebagai fondasi tim nasional.
- Pertemuan Salah dan Messi menjadi panggung pamungkas bagi karier Salah, yang disebut mantan asisten pelatih sebagai kesempatan untuk mengukuhkan statusnya sebagai Raja Afrika.

Pertemuan antara Mesir dan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel dua bintang, Mohamed Salah dan Lionel Messi. Di balik sorotan pada kaptennya, Mesir menyimpan kekuatan kolektif yang dinilai mampu merepotkan tim favorit juara tersebut. Mantan asisten pelatih Mesir, Tito Garcia Sanjuan, mengungkapkan bahwa mentalitas kompetitif, fleksibilitas taktik, dan fondasi kuat dari kompetisi domestik menjadi senjata rahasia Firaun.
Garcia Sanjuan, yang mendampingi Javier Aguirre selama hampir setahun, menilai Mesir bukanlah tim satu dimensi. "Mereka memiliki sesuatu yang telah mendefinisikan tim ini selama 30 tahun terakhir: daya saing," ujarnya kepada FIFA. Menurutnya, Argentina mungkin diunggulkan, tetapi Mesir bisa membuat pertandingan menjadi sulit. "Ini tidak akan mudah bagi Argentina," tegasnya.
Pertemuan Salah dan Messi menjadi magnet tersendiri. Messi, yang kini berusia 39 tahun, mengejar gelar Piala Dunia keduanya, sementara Salah (34 tahun) kemungkinan besar menjalani Piala Dunia terakhirnya. Garcia Sanjuan menganggap laga ini sebagai kesempatan sempurna bagi Salah untuk memahkotai kariernya. "Dia sudah menjadi Raja Afrika, bukan hanya Raja Mesir. Melaju melewati Argentina akan menjadi mahkota yang sempurna," katanya, seraya menambahkan bahwa Salah belum berniat pensiun.
Garcia Sanjuan memuji kepemimpinan dan kualitas Salah yang setara dengan Cristiano Ronaldo dan Messi. "Dia bisa memenangkan pertandingan sendirian dan membalikkan keadaan dalam sekejap," kenangnya. Namun, ia menekankan bahwa kekuatan Mesir tidak hanya bertumpu pada Salah. "Mereka bisa bermain dengan berbagai formasi, baik empat atau lima bek. Itu adalah hal yang mulai jarang terlihat dalam sepak bola modern," jelasnya.
Budaya sepak bola jalanan (street football) menjadi ciri khas gaya bermain Mesir. "Pemain Mesir belajar di jalanan; mereka tahu artinya berjuang untuk setiap bola. Mereka murni passion," kata Garcia Sanjuan. Hal ini tercermin dari semangat juang yang tinggi dan kemampuan individu yang menarik.
Dominasi klub domestik, terutama Al Ahly, menjadi pilar utama. Garcia Sanjuan menyebut Al Ahly sebagai "raksasa" yang menggerakkan segalanya. Klub ini telah menjadi pemasok pemain terbesar bagi tim nasional. Kontinuitas ini, menurutnya, menjadi salah satu kekuatan terbesar Mesir. "Meskipun Salah adalah bintang global, fondasi perjalanan Piala Dunia ini dibangun dari dalam negeri," pungkasnya.
Bagi Indonesia, keberhasilan Mesir yang mengandalkan pemain lokal bisa menjadi inspirasi. Timnas Indonesia yang juga mulai memanfaatkan talenta Liga 1 dapat belajar dari konsistensi dan identitas kolektif yang dibangun Mesir. Pertandingan melawan Argentina akan menjadi ujian sejauh mana kekuatan kolektif mampu menandingi kecemerlangan individu. Mampukah Mesir membuat kejutan dan menghentikan langkah Messi?



