Inggris vs Kongo DR: Djed Spence Starter, Tuchel Andalkan Bellingham-Rice
Baca dalam 60 detik
- Inggris menurunkan Djed Spence sebagai bek kanan darurat menggantikan pemain cedera di babak 32 besar Piala Dunia.
- Kongo DR lolos ke fase gugur berkat hasil imbang melawan Portugal dan kemenangan telak atas Uzbekistan.
- Pertandingan di Atlanta ini menjadi ujian konsistensi Inggris yang tampil kurang meyakinkan di fase grup.

Pelatih Thomas Tuchel melakukan perubahan signifikan di lini belakang Inggris saat menghadapi Republik Demokratik Kongo pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Atlanta, Rabu (25/6) waktu setempat. Mantan bek kanan Genoa, Djed Spence, dipercaya mengisi pos yang ditinggalkan Reece James dan Jarell Quansah yang cedera, sementara Jude Bellingham dan Declan Rice menjadi motor serangan untuk membongkar pertahanan rapat lawan.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Mercedes-Benz ini menjadi momentum krusial bagi The Three Lions yang tampil inkonsisten sepanjang fase grup. Setelah menekuk Kroasia 4-2 dalam laga pembuka yang dramatis, Inggris ditahan imbang 0-0 oleh Ghana dan baru bisa mengatasi perlawanan Panama dengan skor tipis 2-0. Catatan tersebut memunculkan keraguan terhadap kesiapan tim asuhan Tuchel untuk bersaing di babak gugur.
Di sisi lain, Kongo DR datang dengan modal percaya diri tinggi. Tim asuhan Sébastien Desabre sukses melaju ke fase gugur setelah menahan imbang Portugal milik Cristiano Ronaldo 1-1, kalah tipis 0-1 dari Kolombia, dan menghancurkan Uzbekistan 3-1. Gaya bermain defensif yang rapat dan transisi cepat menjadi senjata utama mereka, persis seperti yang menyulitkan Inggris saat berhadapan dengan Ghana.
Keputusan Tuchel menurunkan Spence di posisi bek kanan terbilang berani. Pemain 24 tahun itu lebih sering dimainkan di sisi kiri oleh Tottenham musim lalu, namun cedera yang menimpa Tino Livramento (mundur sebelum turnamen), Reece James, dan Jarell Quansah memaksanya untuk beradaptasi. Sementara itu, Declan Rice yang sebelumnya diragukan fit karena masalah kebugaran jangka panjang dinyatakan siap tampil penuh. Bukayo Saka harus rela duduk di bangku cadangan, digantikan rekan setimnya di Arsenal, Noni Madueke.
Bagi Indonesia, laga ini menarik untuk diamati karena menunjukkan bagaimana negara dengan populasi besar seperti Kongo DR mampu bersaing di panggung global meski dengan sumber daya terbatas. Pola permainan disiplin dan organisasi pertahanan yang rapat bisa menjadi pelajaran bagi timnas Indonesia yang kerap kesulitan menghadapi tim-tim Eropa. Selain itu, performa Inggris yang belum stabil mengingatkan bahwa turnamen sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh tim favorit.
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi pemain-pemain yang sebelumnya kurang mendapat menit bermain. Djed Spence, misalnya, ingin menunjukkan bahwa dirinya layak menjadi bagian dari skuad utama Inggris. Sementara itu, lini depan Kongo DR yang diperkuat Yoane Wissa (Brentford) dan Nathanaël Mbuku (Augsburg) siap memanfaatkan celah di pertahanan Inggris yang rapuh.
“Kami harus lebih sabar dalam membangun serangan. Kongo DR adalah tim yang sangat terorganisir, dan kami tidak boleh terburu-buru,” ujar Thomas Tuchel dalam konferensi pers sebelum pertandingan.
Pemenang laga ini akan berhadapan dengan Meksiko di babak 16 besar. Jika Inggris berhasil melewati ujian ini, mereka berpotensi bertemu dengan Brasil atau Jerman di perempat final. Namun, jika Kongo DR mampu mengejutkan, maka peta persaingan di turnamen ini akan semakin terbuka. Pertanyaannya, mampukah Inggris menunjukkan performa terbaiknya saat tekanan meningkat?



