Santi Cazorla Gantung Sepatu: Perjalanan dari Infeksi Gangren hingga Kembali ke Pangkuan Klub Masa Kecil
Baca dalam 60 detik
- Gelandang legendaris Spanyol dan mantan Arsenal, Santi Cazorla, resmi pensiun di usia 41 tahun setelah karier yang nyaris terhenti akibat infeksi gangren pada 2016.
- Cazorla menjalani 11 operasi dan absen 668 hari sebelum kembali bermain, akhirnya menutup karier di klub masa kecilnya, Real Oviedo, dengan gaji minimum dan donasi hak citra.
- Oviedo memberikan kehormatan kepada Cazorla untuk tetap di klub dalam peran apa pun, sementara ia meminta 10% penjualan jersey-nya dialokasikan untuk akademi muda klub.

Santi Cazorla, gelandang kreatif yang pernah menjadi andalan Arsenal dan tim nasional Spanyol, resmi mengumumkan pensiun dari dunia sepak bola pada usia 41 tahun. Keputusan ini mengakhiri perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan melawan infeksi gangren yang nyaris memotong kariernya di puncak.
Cazorla menghabiskan tiga musim terakhir bersama Real Oviedo, klub yang membesarkan namanya. Ia kembali ke sana pada 2023 dengan status pemain amatirโhanya menerima gaji minimum yang diizinkan liga dan menyumbangkan seluruh hak citranya kepada klub. Langkah ini menunjukkan dedikasi total terhadap klub yang ia cintai sejak kecil.
Perjalanan Cazorla tidaklah mulus. Pada 2016, saat masih membela Arsenal, ia mengalami infeksi gangren setelah operasi pada tendon Achilles. Kondisi itu memaksanya menjalani 11 prosedur operasi dan absen selama 668 hari. Banyak pihak meragukan ia bisa kembali bermain di level tertinggi, namun Cazorla membuktikan sebaliknya. Ia pulih dan kembali memperkuat Villarreal sebelum akhirnya bergabung dengan Oviedo.
Dalam video perpisahan yang diunggah di akun X-nya, Cazorla menyampaikan pesan emosional. "Sekarang semuanya berakhir, ketika sepatu digantung dan kebisingan berubah menjadi sunyi, semuanya terasa pas karena akhirnya bukan di sembarang tempatโsaya di rumah," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa baginya, kembali ke Oviedo adalah penutup karier yang sempurna.
Real Oviedo pun memberikan penghormatan khusus. Manajemen klub menyatakan ingin mempertahankan Cazorla dalam peran apa pun yang ia pilih, asalkan membuatnya bahagia. Selain itu, Cazorla hanya meminta 10 persen dari penjualan jersey-nya disalurkan ke akademi muda Oviedo. "Untuk berkontribusi pada pertumbuhan generasi mendatang," demikian bunyi pernyataan klub.
Kisah Cazorla menjadi inspirasi tidak hanya bagi penggemar Arsenal atau Spanyol, tetapi juga bagi pesepak bola di Indonesia. Perjuangannya melawan cedera parah dan dedikasinya pada klub masa kecil mengajarkan bahwa sepak bola bukan sekadar bisnis, melainkan juga tentang loyalitas dan cinta. Di tengah maraknya pemain yang berpindah klub demi kontrak besar, langkah Cazorla menerima gaji minimum dan menyumbang hak citra menjadi contoh langka.
Pertanyaan kini mengemuka: akankah Cazorla mengambil peran sebagai pelatih atau direktur teknis di Oviedo? Atau ia akan memilih jalur berbeda di luar lapangan? Yang jelas, warisannya sebagai gelandang serbabisa dengan kaki kiri ajaib akan terus dikenang.



