Kisah Nestory Irankunda: Dari Kamp Pengungsi ke Panggung Piala Dunia, Kebanggaan Komunitas Burundi di Australia
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Australia, Nestory Irankunda, mencetak gol debut Piala Dunia 2026 saat melawan Turki, membawa kebanggaan bagi komunitas Burundi di Adelaide yang menyaksikan perjalanannya dari kamp pengungsi.
- Irankunda, yang lahir di kamp pengungsi Tanzania, kini menjadi inspirasi bagi ribuan keluarga Burundi di Australia Selatan setelah meniti karier dari klub amatir hingga Bayern Munich.
- Komunitas Burundi berharap Irankunda dan Socceroos bisa melaju lebih jauh di Piala Dunia, dengan dukungan penuh dari mereka yang melihatnya tumbuh sebagai pesepakbola alami.

Gol perdana Nestory Irankunda di Piala Dunia 2026 bukan sekadar torehan angka di papan skor. Bagi komunitas Burundi di Australia Selatan, momen saat bola hasil tendangan pemain sayap berusia 20 tahun itu menjebol gawang Turki pada 14 Juni lalu adalah simbol kebanggaan yang melampaui batas negara.
Irankunda, yang lahir di kamp pengungsi Tanzania saat keluarganya melarikan diri dari perang saudara Burundi, tumbuh besar di Adelaide. Ia memulai perjalanan sepak bolanya di klub amatir Northern Wolves sebelum menembus Adelaide United dan akhirnya bergabung dengan raksasa Bundesliga, Bayern Munich, pada 2024. Kini, ia menjadi bagian dari skuad Australia yang melaju ke babak 32 besar Piala Dunia dan akan menghadapi Mesir di Dallas.
Joel Hakizimana, presiden Burundi FC yang mewakili komunitas tersebut, mengenang bagaimana Irankunda kecil tak pernah takut berlatih dengan pemain yang lebih dewasa. "Dia selalu percaya diri, kuat, dan cepat. Dia pemain alami," ujar Hakizimana, yang pertama kali bertemu ayah Irankunda di kamp pengungsi. Menurutnya, bakat Irankunda sudah terlihat sejak usia dini, dan perkembangannya yang pesat hingga ke panggung dunia adalah sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Kisah Irankunda menjadi cermin bagaimana sepak bola mampu menjembatani latar belakang sulit menuju prestasi global. Dari berlatih di Creaser Park bersama para tetua komunitas hingga berbagi hidangan khas Burundi seperti ubugari, ia tetap terhubung dengan akarnya. "Setiap kali pulang, semua anak ingin bertemu dengannya. Dia sering berlatih bersama kami," tambah Hakizimana. Momen kebersamaan ini memperkuat ikatan yang tak lekang oleh waktu.
Bagi Indonesia, kisah Irankunda menyiratkan potensi besar diaspora dalam memperkuat sepak bola nasional. Dengan banyaknya pemain keturunan Indonesia yang bermain di luar negeri, pengalaman Australia dalam merangkul komunitas imigran bisa menjadi pelajaran berharga. Dukungan penuh dari federasi setempat, seperti yang diakui Hakizimana, menjadi kunci lahirnya talenta kelas dunia.
Kini, seluruh komunitas Burundi di Australia bersatu mendukung Irankunda dan Socceroos. "Pesan saya untuknya: 'Ayo Nestory, seluruh komunitas di belakangmu,'" tutup Hakizimana. Pertanyaan besarnya, bisakah Irankunda membawa Australia melangkah lebih jauh dan mengukir sejarah baru bagi negaranya serta kebanggaan komunitas kecil di Adelaide?



