Firasat Ronaldo Sebelum Penalti: Momen Emosional yang Bawa Portugal ke Babak Selanjutnya
Baca dalam 60 detik
- Cristiano Ronaldo mengaku sudah merasakan akan mengambil penalti sejak sebelum laga melawan Kroasia.
- Penalti tersebut menjadi gol ke-11 Ronaldo di Piala Dunia, sekaligus penyelamat Portugal dari kekalahan.
- Kemenangan ini juga menjadi tribute emosional untuk mendiang Diogo Jota yang genap setahun meninggal.

Kapten Portugal, Cristiano Ronaldo, menjadi pusat perhatian setelah membawa timnya membalikkan keadaan melawan Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2025. Bukan hanya karena gol penalti krusialnya, melainkan juga karena firasat yang sudah ia rasakan jauh sebelum pertandingan dimulai. Dalam wawancara usai laga, Ronaldo mengungkapkan bahwa ia sudah 'merasa' akan diminta menjadi algojo penalti pada hari pertandingan.
"Sejak siang hari, saya diliputi perasaan bahwa saya harus mengambil penalti. Saya sudah mempersiapkan diri sejak saat itu karena saya merasa itu akan terjadi," ujar Ronaldo kepada CazรฉTV. Ia mengakui bahwa momen itu sangat menegangkan, bahkan jantungnya berdebar kencang. Namun, insting dan keyakinan membuatnya berhasil mengeksekusi dengan sempurna. Gol tersebut tidak hanya menyamakan kedudukan, tetapi juga mengubah momentum pertandingan yang sempat dikuasai Kroasia.
Portugal tertinggal lebih dulu melalui gol cepat Kroasia di babak pertama. Sempat tertekan, perlahan-lahan Portugal bangkit. Ronaldo nyaris mencetak gol dari permainan terbuka, namun dianulir. Justru setelah momen itulah, kepercayaan diri tim meningkat. "Kami sempat terpukul, tetapi keyakinan tumbuh setelah gol saya dianulir. Kami semakin berkembang setelah penalti dan menciptakan peluang bagus. Pada akhirnya kami pantas menang," tambahnya.
Namun, kemenangan ini memiliki makna yang lebih dalam. Tanggal 3 Juli 2025 menjadi hari yang berat secara emosional bagi skuad Portugal, karena tepat satu tahun kepergian mantan rekan setim mereka, Diogo Jota. Sebelum pertandingan, para pemain telah berdiskusi di ruang ganti untuk memberikan penghormatan. Ronaldo mengenakan jersey merah bernomor 21 milik Jota saat selebrasi, sebuah gestur yang sudah direncanakan. "Kami sadar akan hal itu sebelum pertandingan. Hidup menghadirkan kebetulan yang luar biasa. Saya sangat terharu dengan apa yang terjadi hari ini. Ini sangat berarti bagi kami, bukan hanya karena menang, tetapi juga cara kami meraihnya," kata Ronaldo.
Pertandingan di Toronto itu juga menjadi ajang reuni emosional bagi Ronaldo dengan mantan rekan setimnya di Real Madrid, Luka Modric. Keduanya, yang kini sama-sama berusia di atas 40 tahun, saling berpelukan dan bertukar sapa usai laga. "Saya bermain bersama Luka selama bertahun-tahun. Dia adalah legenda sepak bola sejati. Saya mengucapkan selamat kepadanya beberapa kali dan mengatakan bahwa saya senang bertemu lagi. Saya mendoakan yang terbaik untuk kariernya. Sungguh luar biasa bisa berhadapan dengannya lagi," ujar Ronaldo penuh haru.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Ronaldo ini mengingatkan pada dedikasi dan mentalitas juara yang jarang dimiliki pemain seusianya. Di usia 41 tahun, ia masih menjadi tumpuan tim nasional Portugal dan mampu tampil di panggung terbesar. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Portugal melaju lebih jauh dan memberi Ronaldo piala dunia perdananya? Atau akankah usia menjadi batasan yang tak terelakkan? Laga-laga berikutnya akan menjadi jawabannya.



